Romance · Young Adult

Cinder [The Lunar Chronicles #1]

27951429

Title: Cinder [The Lunar Chronicles #1]

Author: Marissa Meyer

Translator: Yudith Listriandi

Editor: Selsa Cynthia

Proofreader: Titish A.K.

Published: January 2016 [Penerbit Spring]

ISBN: 9786027150546

Rate: thumbsthumbsthumbsthumbs

Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Cinder—seorang cyborg—adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?

***

Bumi sudah berada di masa setelah Perang Dunia ke-4 dan terbagi atas 6 negara: Kerajaan Inggris, Federasi Eropa, Uni Afrika, Republik Amerika, Australia dan Persemakmuran Timur. Bulan juga sudah berhasil ditaklukkan dan dihuni oleh sebagian manusia yang pada akhirnya menetap di sana dan membuat para penghuninya dijuluki sebagai orang Bulan. Penghuni Bumi bukan hanya manusia, melainkan juga cyborg (cybernetic organism), Android, bahkan juga beberapa pelarian dari Bulan.  Sebuah wabah mematikan sedang menyebar secara tak terbendung di seluruh Bumi dan telah memakan banyak korban jiwa. Para ilmuwan dan peneliti berlomba-lomba untuk menemukan vaksin yang dapat menjadi solusi untuk menghentikan penyebaran wabah letumosis tersebut.

Cinder, seorang cyborg mekanik terkemuka di New Beijing, adalah yatim piatu yang diangkat anak oleh Linh Garan. Ketika Linh Garan meninggal karena terkena letumosis, Cinder lah yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga angkatnya: ibu tiri dan kedua adik tirinya. Meskipun Cinder menjadi tulang punggung keluarga Linh, tidak serta-merta keluarganya menyayanginya layaknya sebuah keluarga yang hangat. Adri, si ibu tiri, dan Pearl, salah seorang adik tirinya, jelas membenci Cinder dan berlaku kejam padanya. Hanya Peony, anak bungsu keluarga Linh, yang menyayangi Cinder dengan tulus. Selain itu ada juga Iko, android keluarga Linh yang setia.

Pertemuannya dengan Pangeran Kai, yang meminta pertolongannya untuk memperbaiki salah satu androidnya, nampaknya menjadi titik awal terkuaknya masa lalu yang tak pernah bisa diingat oleh Cinder. Satu per satu peristiwa membawa Cinder semakin dekat dengan tabir masa lalu yang menyelimutinya dan hal ini tidak hanya memengaruhinya, melainkan juga orang-orang terdekatnya.

***

Kisah Cinder ini terbagi atas 4 buku:

Buku Satu (hal. 1-86)

Mereka mengambil gaun-gaunnya yang indah, menyuruhnya memakai baju kerja abu-abu tua dan memberinya sepatu kayu.

Pada bagian ini ada begitu banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu 1 x 24 jam! Dibuka dengan keseharian Cinder sebagai mekanik di pasar mingguan New Beijing dan pertemuannya dengan Pangeran Kai, Putra Mahkota Persemakmuran Timur yang terkenal tampan dan menjadi idola para gadis di negeri itu. Kejadian selanjutnya cukup mengejutkan karena salah seorang penjual roti di pasar itu terpapar letumosis yang sedang mewabah dan menyebabkan evakuasi dilakukan sesegera mungkin.

Di apartemen keluarga Linh, Cinder yang baru kembali dari pasar melihat keriaan karena keluarganya sedang mempersiapkan gaun-gaun tercantik mereka untuk dapat dikenakan pada pesta dansa yang akan digelar oleh istana. Tentu saja Cinder tidak masuk dalam hitungan dan diberi tugas untuk memperbaiki hover yang akan dikendarai mereka untuk ke pesta dansa. Meskipun kesal karena tidak diajak pergi ke pesta dansa, Cinder memilih menuruti permintaan Adri untuk memperbaiki kerusakan hover. Karena hal inilah akhirnya Cinder memutuskan pergi ke tempat penampungan barang rongsokan untuk mencari suku cadang hover keluarga Linh. Iko, sang android, dan Peony si bungsu ikut menemaninya. Dan dari situlah bencana baru dimulai…

“Apakah jenismu tahu apa itu cinta? Apakah kau bisa merasakan sesuatu, atau semua hanya… program?” [hal. 67]

 

Buku Dua (hal. 87-184)

Di malam hari, ketika dia telah lelah bekerja, mereka mengambil tempat tidurnya, dan dia harus berbaring di samping perapian, di dekat abu.

Bagian ini dibuka dengan kejadian ketika patogen pembawa letumosis disuntikkan ke tubuh Cinder. Ya! Cinder menjadi salah seorang relawan yang terpaksa harus merelakan dirinya dijadikan kelinci percobaan demi penelitian untuk menemukan vaksin penyembuh letumosis. Pertemuannya dengan Dr. Erland, kepala peneliti istana, kelak memegang peranan yang sangat penting atas terungkapnya masa lalu Cinder yang begitu misterius.

Pada bagian ini juga terjadi pertemuan kedua antara Cinder dan Pangeran Kai. Cinder berusaha sekeras yang dia bisa untuk dapat menyembunyikan fakta bahwa dirinya adalah cyborg. Pada akhirnya Pangeran Kai pun memintanya secara pribadi untuk datang ke pesta dansa!

“Kurasa kau akan pergi ke pesta dansa?” [hal. 163]

Kondisi politik antara Bumi dan Bulan dikisahkan kian memanas dalam bagian kedua ini. Kaisar Raikan, ayah Pangeran Kai, baru saja wafat karena wabah letumosis. Ditambah lagi, Levana, Ratu Bulan, bersikukuh untuk datang langsung ke Bumi dengan tujuan menyampaikan bela sungkawanya sekaligus menyaksikan langsung pelantikan Pangeran Kai sebagai Kaisar Persemakmuran Timur yang baru.

“Ratu Bulan memberitahu kami pagi ini bahwa dia akan datang ke Persemakmuran dalam misi diplomatik.” [hal. 158]

Dan ya… pada bagian kedua ini Pangeran Kai digambarkan hampir saja jatuh dalam pesona sang Ratu Bulan pada saat pertemuan pertama mereka.

“Anda melawan pengaruhnya dengan baik, Yang Mulia. Saya tahu itu sulit.” [hal. 184]

 

Buku Tiga (hal. 185-276)

“Aku tak bisa membiarkanmu pergi bersama kami karena kau tak punya gaun untuk kau pakai dan kau tak tahu cara berdansa. Kami hanya akan malu karenamu!”

Bagian ini diwarnai dengan ketegangan yang memuncak karena kehadiran Levana, sang Ratu Bulan, di Bumi. Ini adalah pertama kalinya sang Ratu menjejakkan kakinya di Bumi. Meskipun sempat terjadi pergolakan rakyat Persemakmuran Timur yang menolak kehadiran sang Ratu, hal ini segera sirna ketika sang Ratu Bulan dengan pesonanya yang begitu kuat dan misterius muncul di balkon istana. Bagaikan tersihir, semua pemrotes di depan gerbang istana akhirnya menjadi tenang dan kembali ke rumah mereka masing-masing, kecuali satu: Cinder!

Ada begitu banyak kepedihan dalam buku ketiga ini. Kematian salah satu orang yang dekat dengan Cinder. Kehancuran sosok yang selama ini begitu setia menemani dan menghibur Cinder. Semuanya seolah menambah kegetiran hati Cinder.

Tidak hanya Cinder yang mengalami cobaan silih berganti, Pangeran Kai pun berkali-kali harus menahan diri menyaksikan kengerian tamu-tamu dari Bulan yang sedang berkunjung ke istananya. Tidak mudah baginya untuk tetap “waras” demi menjaga kedamaian di Persemakmuran Timur. Salah ucap saja dapat membuat segalanya makin runyam.

 

Buku Empat (hal. 277-376)

Semua tangga miliknya dilapisi dengan ter, dan ketika Cinderella berlari menuruni tangga itu, sepatu kirinya terjebak di sana.

Bagian klimaks pada buku Cinder ini dibuka dengan Festival Perayaan Akhir Perang Dunia Keempat yang meriah di New Beijing. Berita mengenai bocah ajaib yang sembuh dari wabah letumosis juga mewarnai berita. Pertemuan kembali Pangeran Kai dan Cinder di kios Cinder pun kembali terjadi, meskipun sempat terinterupsi oleh kehadiran Pearl.

Segala macam ketegangan berkumpul dan memuncak di bagian terakhir buku ini. Konfrontasi Pangeran Kai terhadap Ratu Levana, kebencian Ratu Levana terhadap Cinder, rahasia yang selama ini ditutup-tutupi oleh Cinder dari Pangeran Kai, sampai masa lalu Cinder yang misterius akhirnya benar-benar terungkap disini.

Akhirnya sebuah pesta dansa paling meriah menjadi panggung utama ketika karakter-karakter dalam kisah ini dipertemukan: Cinder, Adri, Pearl, Pangeran Kai, Sybil Mirna dan Ratu Levana!

“Kau bahkan lebih menyakitkan untuk dilihat dibandingkan Levana.” [hal. 358]

***

Sejak awal membaca review Cinder di beberapa blog dan goodreads, aku sudah penasaran dengan bagaimana sebuah kisah bergenre dystopia ini diramu dengan sebuah unsur kisah dongeng klasik Cinderella. Jadi begitu ada tawaran untuk menjadi peserta Instagram Blog Tour yang diadakan oleh Penerbit Spring, aku langsung mencobanya.

Secara keseluruhan, aku suka sekali dengan bagimana Marissa Meyer membangun cerita dalam seri pertama The Lunar Chronicles ini. Sebuah kisah scifi futuristik yang dibalut dengan classic romance story secara indah dan tetap manusiawi.

Dan yang membuatku cukup terkejut adalah fakta bahwa penulis ini juga merupakan penggemar berat Sailor Moon sama sepertiku!^^ Bahkan ia sudah menulis fanfiction Sailor Moon selama 10 tahun! Wow! Pantas saja sepanjang membaca buku ini aku merasakan aura Sailor Moon yang begitu kental, terutama dibagian masa lalu Cinder dan mengenai keberadaan Orang Bulan.

Sekalipun tokoh utamanya adalah cyborg, pergolakan batin yang terjadi dalam dirinya menjadikan Cinder begitu manusiawi dan tak jarang membuatku merasa teramat iba padanya. Kondisinya sungguh-sungguh mencerminkan Cinderella di jamannya:

  • memiliki keluarga angkat yang tidak menyukainya (kecuali Peony)
  • tidak pernah diperhitungkan dan selalu dipandang sebelah mata, terutama karena dirinya adalah cyborg
  • tetap memiliki rasa excited ingin pergi ke pesta dansa, sekalipun di kisah ini Cinder berupaya keras menutup-nutupi keinginan itu
  • kisah cinta yang nampaknya tak kan berbalas
  • sama-sama memiliki rahasia besar yang akhirnya terungkap lewat sepatu (dalam kisah ini: kaki robotik Cinder)

Melalui kisah Cinder ini aku juga mendapatkan beberapa pesan seperti:

  • Inner beauty adalah hal yang utama, karena sesungguhnya diri kita akan memantulkan inner beauty lebih daripada penampilan luar kita yang sering kali hanya hiasan semata.

“Akan lebih mudah menyuruh orang lain untuk menganggapmu cantik kalau kau bisa meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau memang cantik. Tapi, cermin memiliki cara yang luar biasa untuk mengatakan yang sebenarnya.” [hal. 171]

“Itu benar-benar sebuah ilusi. Kau tidak cantik” [hal. 352]

  • Penderitaan dan trauma masa lalu dapat menghancurkan kita, namun jika kita mengatasinya dengan baik maka itu akan mendewasakan kita dan memberikan kita ketegaran serta kekuatan dalam menghadapi kehidupan.

Hal ini terlihat dari perubahan sikap yang dialami oleh Cinder sepanjang buku ini. Di awal dia terlihat begitu rapuh dan patuh saja pada kesewenang-wenangan yang diperbuat Adri dan Pearl terhadapnya, namun pada akhirnya dia mampu memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri dan bahkan berbuat sesuatu bagi orang-orang yang dia sayangi.

  • Cintailah kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri kita karena mungkin saja hal itu yang akan memberikan kekuatan pada kita di saat-saat terendah dalam hidup kita.

Dia senang karena tidak ada air mata yang akan mengkhianati rasa terhinanya. Senang karena tidak ada darah di pipinya yang akan mengkhianati kemarahannya. Senang karena tubuh cyborg-nya yang dibenci ternyata membantunya mempertahankan harga diri. [hal. 346]

Di bagian akhir buku ini juga dimunculkan tokoh yang kelak akan menjadi tokoh utama dalam seri The Lunar Chronicles selanjutnya. Selain itu juga diselipkan kisah pembuka untuk Scarlet, buku ke-2 seri The Lunar Chronicles. Can’t wait to read the rest of this series!

Oh iya, meskipun aku menemukan beberapa typo dalam buku terbitan Penerbit Spring ini, secara keseluruhan gaya bahasanya dituturkan dengan luwes dan mengalir dengan baik. Jauh dari kesan novel terjemahan yang kaku.

Tak lama lagi, seluruh dunia akan mencarinya –Linh Cinder.

Cyborg cacat dengan kaki yang hilang.

Orang Bulan dengan identitas curian.

Seorang mekanik yang tidak punya seseorang, atau tempat untuk pergi.

Namun, mereka akan mengejar hantu.

***

Submitted for:

Project Baca Buku Cetak 2016 (#BacaBukuCetak)

Reading Romance Challenge 2016 – Out of Normal

Young Adult Reading Challenge

Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challenge 2016

Advertisements

15 thoughts on “Cinder [The Lunar Chronicles #1]

  1. Setuju banget sama kalimat ” jauh dari kesan novel terjemahan yang kaku.”
    Menurut kakak, apa cinta cinder beneran gak berbalas? Kalau iya, alhamdulillahhhh, pangeran, eh, kaisar Kai buat aku aja. Hehehehehe

    Liked by 1 person

    1. Wah! Untuk mengetahui apakah cinta Cinder terhadap Kaisar Kai berbalas atau tidak, kita harus baca keseluruhan seri The Lunar Chronicles ini deh! Aku juga udah gak sabar baca kelanjutannya nih! 😆

      Liked by 1 person

  2. Setuju sama ini.

    Inner beauty adalah hal yang utama, karena sesungguhnya diri kita akan memantulkan inner beauty lebih daripada penampilan luar kita yang sering kali hanya hiasan semata.

    Menjadi diri sendiri itu lebih baik daripada pake topeng hidup dalam kepura-puraan ^_^

    Liked by 1 person

    1. Iyaaa… Setidaknya walaupun Cinder dianggap “menjijikkan” karena ke-cyborg-kannya, tapi dia justru memiliki hati yg lebih manusiawi ketimbang beberapa manusia yg hidup di jamannya.

      Anyway, thanks for visiting my blog. It is always nice to get comment for my post 😉

      Have a nice weekend

      Like

  3. Belum pernah baca buku ini, tapi dari segi cover, sinopsis, cerita, review yang aku baca itu top-top banget. By the way, reviewnya keren kak 😀 ini serius ya, bukan karena buat giveaway :p penjelasannya lengkap dan menyeluruh, pas banget sama semua aspek yang ingin diketahui pembaca, ngebuat aku makin penasaran >.< sayangnya belum bisa beli, hahaha. Terima kasih atas informasinya kak ^^

    Like

  4. Aku pusing tau Mba pas baca buku ini, gatau sih. Susunan kalimatnya ribet aja menurutku, bikin sulit dimengerti. Alhasil, proggres baca buku ini pun aku tunda dulu.
    Tapi setelah baca review di Mba Kitty ini, kok aku jadi tertantang lagi ya untuk membaca buku ini sampai selesai?
    Aku sebenarnya penasaran bagaimana konflik cerita ini berujung. Tentang peperangan antara warga Bumi dan Bulan. Ah, ini cerita tipe aku banget seharusnya. Apa mungkin karna kemarin aku ga ada mood kali ya, sampe puyeng gitu? hahaha.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s