Mystery

When We Were Orphans

when we were orphans

Title : When We Were Orphans (Masa-masa Ketika Kita Yatim Piatu)
Author: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Linda Boentaram
Paperback, 424 pages
Published September 26th, 2012 by Elex Media Komputindo (first published January 1st 2000)
ISBN : 9786020033655
Edition Language: Indonesian
Awards: Nominasi Man Booker Prize (2000)
Genre: Historical Fiction – Mystery – Contemporary
Rate: thumbsthumbsthumbs
BLURB

Lahir pada awal abad kedua puluh Shanghai, Christopher Banks menjadi yatim piatu pada usia sembilan setelah kehilangan orang tuanya.

Sekarang, lebih dari dua puluh tahun kemudian, ia adalah sosok terkenal di masyarakat London.

Namun keahlian investigasi yang telah membawanya ke puncak ketenaran tidak mampu memecahkan misteri penculikan orang tuanya.

Banks melakukan perjalanan ke kota yang penuh kenangan baginya untuk memecahkan misteri dirinya, luka masa lalu, hanya untuk menemukan Shanghai yang telah porak poranda karena perang.

***

REVIEW

Ini adalah pertama kalinya aku membaca karya Kazuo Ishiguro. Secara keseluruhan, kisahnya dibangun dengan cukup menarik dengan plot maju yang kerap kali diselingi flash back mengenai ingatan masa lalu tokoh utamanya. Dan sebagai salah seorang yang gandrung akan buku-buku fiksi suspense atau detektif, sebenarnya aku cukup berharap banyak menemukan kepuasan saat membaca buku ini, ditambah lagi dengan berbagai review yang sempat kubaca dan fakta bahwa buku ini juga sempat dinominasikan dalam Man Booker Prize pada tahun 2000.

Sayangnya aku dikecewakan sejak saat aku membaca halaman-halaman awal buku ini. Selain terdapat banyak typo, entah kenapa gaya bahasanya terasa kurang enak dan kurang mengalir dengan luwes. Entah apakah karena begitu lah gaya bahasa yang dipakai pengarang aslinya, atau justru karena gaya sang penerjemah. Yang jelas, aku butuh banyak sekali waktu untuk dapat menyelesaikan buku ini. Diantaranya karena perasaan bimbang untuk terus membaca atau langsung berhenti saja. Aku tidak menikmati buku ini sepenuhnya. Itu sebabnya aku hanya memberikan rate tiga jempol bagi karya ini.

Disisi lain, aku justru jadi penasaran dengan original version karya Kazuo Ishiguro ini. Jika ada kesempatan (dan waktu) aku ingin sekali dapat membaca buku ini dalam bahasa aslinya. Mungkin dengan demikian hasratku dapat terpuaskan dengan maksimal.

Meskipun menggunakan alur maju dalam ceritanya, di dalam buku ini terlalu banyak ditemukan flash back dari tokoh utamanya, terutama masa-masa kecil saat ia masih tinggal di Shanghai. Sebenarnya membaca kisah flash backnya cukup menyenangkan karena berbau suspense khas anak-anak, namun karena terlalu panjang dalam mengisahkan flash back dan bahkan terkadang bertumpuk-tumpuk, aku pribadi kurang menikmati saat kisahnya kembali ke masa sekarang.

Berikut ini adalah beberapa kisah flashback Christopher kecil yang kunikmati detil-detilnya dalam buku ini:

  1. Kisah penuh misteri mengenai kebiasaan Ling Tien, seorang pelayan tua di rumah Akira; teman dekat Christopher. Sebagai anak-anak, Akira berimajinasi bahwa pelayannya itu memiliki kebiasaan aneh mengumpulkan tangan dan kemudian mengubahnya menjadi makhluk seperti laba-laba. Karena rasa penasaran inilah maka Akira dan Christopher sempat melakukan “kejahatan pertama” mereka dan dihantui oleh peristiwa tersebut.
  1. Kisah penculikan Ayah. Ketika berhari-hari Ayah Chrisopher menghilang dan tak terdengar kabarnya, Akira yang berusaha menghibur Christopher akhirnya mengajaknya bermain “Mencari Ayah”. Sejak saat itu mereka sering sekali bermain peran dengan kisah penculikan Ayah Christopher dan para penculiknya.

Meskipun buku ini gak terlalu banyak mengumbar quote-quote seperti buku-buku romance, namun aku juga menemukan beberapa quote  menarik di buku ini:

Tujuanku adalah memerangi kejahatan – khususnya kejahatan tidak kentara dan terselubung – dan oleh karena itu hampir tidak ada kaitannya dengan mengejar popularitas di kalangan masyarakat. (hal. 27)

 

“Tidak malukah kau melayani perusahaan seperti itu? Bagaimana nuranimu bisa tenang jika kau menggantungkan kehidupanmu pada kekayaan tak bermoral seperti itu?” (hal. 95)

 

Kita seringkali tidak menyadarinya, tetapi kita anak-anaklah yang mempersatukan tidak hanya sebuah keluarga, tetapi seluruh dunia. Jika kita tidak melakukan peranan kita, semua lempengan itu akan jatuh berserakan di lantai. (hal. 99)

***

Buku ini kupinjam dari Perpustakaan Daerah Jakarta yang terletak di Taman Ismail Marzuki, tepatnya di lantai 1. Di sini juga terdapat koleksi buku anak di lantai 2 dan indoor playground loh! Sangat pas untuk tempat hiburan keluarga yang juga suka baca buku 😉

 

Submitted for:

Project Baca Buku Cetak 2016 (#BacaBukuCetak)

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016 (#BacaBukuPerpus)

2016 I Love Libraries Reading Challenge (ILLRC)

 

 

Advertisements

9 thoughts on “When We Were Orphans

  1. aku suka sekali dengan buku genre misteri, walaupun gaya bahasa kurang enak, tapi kalo bukunya genre misteri, masih layak untuk digali cerita Christopher Banks ini. aku suka dengan quote nya yang kecantol dipikiran serta hati. *uhuk

    Like

  2. Wahh… Aku juga ada buku karya Kazuo Ishiguro dengan judul yang berbeda.
    Aku setuju untuk hasil terjemahannya gak enak. Ada beberapa pola kalimat yang gak sesuai, kebalik gitu. Walaupun bukunya tipis tapi gak kelar-kelar sampe sekarang.
    Tapi aku penasaran dengan buku ini yang mengangkat tema detective. Cari ah nanti.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s