Romance · Young Adult

Saujana Cinta

29323929

Title: Saujana Cinta

Author: Indah Hanaco

Editor: Donna Widjajanto

Layouter: Fitri Yuniar

Cover: Orkha Creative

Published: 2015 (Gramedia Pustaka Utama)

ISBN: 9786020326221

Harga: – (Buntelan dari penulis dalam rangka #BacaBareng #SaujanaCinta)

Genre: Romance – YA

Rate: thumbsthumbsthumbsthumbs

 

BLURB

Sejak awal, Pia Miriam tahu risiko karena lancang menyukai Alec Kincaid yang justru jatuh hati pada kakaknya. Tapi Pia tidak mundur, tidak juga berupaya meraih hati aktivis yang suka memakai kilt itu. Keinginan sang gadis sederhana saja: melihat Alec bahagia.

Ketika akhirnya Alec patah hati, Pia sama menderitanya.
Tak dinyana, berbagai rintangan dan iman yang naik-turun justru mendekatkan mereka. Pelan tapi pasti, Pia menjelma menjadi peringan duka bagi Alec. Keduanya pun mulai berani berharap bisa menemukan jalan bahagia.

Hingga sebuah peluru mendebukan mimpi-mimpi mereka.

***

SINOPSIS

“Kamu melindungi panda mati-matian. Hewan. Tapi, kamu menghina manusia yang sama sekali tidak kamu kenal.” [hal. 7]

Menggantikan pamannya sekaligus mewakili Sea World Conservancy (SWC) dalam Annual Meeting: Back to Green Planet di Singapura ternyata menjadi awal yang mempertemukan Alec Kincaid dengan Runa Nawami dari Wildlife of Sumatra. Tidak hanya sekedar tertarik karena kesamaan latar belakang aktivis lingkungan, Alec juga merasakan ketertarikan yang lain. Sayangnya, ada prinsip dasar yang membuat Runa menolak perasaan  aktivis yang hobi mengenakan kilt itu.

“Ada satu hal yang mustahil untuk dijembatani. … Dan itu jurang yang tidak bisa dilewati. It can’t be happening.” [hal. 24]

Meskipun kejadian itu sudah berlalu setahun yang lalu, Alec tetap belum bisa melupakan sosok gadis berhijab yang telah menawan hatinya. Dan ketika ia akhirnya mendapatkan alasan kuat untuk berkunjung ke Indonesia, Alec tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Ia begitu ingin meluruskan perihal setahun yang lalu itu. Siapa tahu dengan begitu Runa akan memberikan kesempatan kedua baginya.

Dia tidak ingin memaksakan diri memakai pakaian yang melindungi auratnya demi menyenangkan hati kedua orangtuanya. Gadis itu yakin, seharusnya ia berjilbab karena memang ingin mengikuti perintah Allah, bukan perintah manusia. [hal 29-30]

Pia Miriam, si bungsu dari 3 bersaudari yang bercita-cita ingin menjadi guru, belum juga memutuskan untuk mengenakan jilbab seperti desakan ibunya. Bukan berarti ia tidak menghargai nasehat sang bunda, hanya saja di usianya yang masih sangat belia ini ia merasa perlu menunggu sampai hatinya benar-benar siap sebelum harus menutup auratnya seperti kedua kakaknya.

Pria yang rambutnya diikat satu dan punya mata unik berwarna kekuningan di bagian irisnya itu tidak memakai scarf. Tidak juga berkemeja fuchsia yang menyilaukan itu. Tapi, Pia bisa merasakan seakan petir menyambarnya. GAR!

Takdir memang sungguh aneh! Ketika akhirnya Alec gembira karena dapat berkunjung ke negara dimana gadis pujaannya itu hidup, seketika itu juga Alec harus kecewa karena Runa justru sedang berada di London untuk menghadiri Annual Meeting: Back to Green Planet tahun itu. Dan alangkah terkejutnya Alec ketika akhirnya ia menemukan seorang gadis belia yang dapat menjadi penghubung antara dirinya dengan Runa. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Pia, adik bungsu gadis pujaan Alec.

“Kalau penyakitku semakin parah, aku akan memastikan kamu juga menderita.” [hal. 127]

Ketika Alec akhirnya tumbang karena demam berdarah, Pia rajin mengunjunginya di rumah sakit. Lama-kelamaan, mereka berdua pun semakin dekat. Ada rasa perih di hati Pia melihat pria itu terbaring lemah di rumah sakit. Ia pun bertekad akan melakukan apapun demi meringankan penderitaan Alec, sekalipun jika hal itu justru akan membuat hatinya sendiri terluka.

“…. Jangan tertarik memeluk suatu agama hanya karena seseorang. Tuhan itu harganya luar biasa mahal,… Tidak layak diganti seenaknya hanya karena… ” [hal. 159]

Ketika takdir mempertemukan kembali Alec dengan Runa, ada keputusan besar yang harus diambil oleh aktivis berdarah Norse itu. Keputusan yang justru membuat Pia jadi murka. Keputusan yang sama sekali tak diduga oleh Runa. Keputusan yang akan mengubah hidup Alec untuk selamanya…

“… Cinta pada manusia itu bisa seumur jagung, Alec, tapi cinta pada Tuhan harus seumur hidup.” [hal. 160]

Akankah Alec bersungguh-sungguh menjalankan keputusan yang sudah diambilnya? Apakah keputusan itu benar-benar karena ia sudah menemukan Tuhan atau hanya untuk mengambil hati Runa? Bagaimanakah dengan perasaan Pia yang selama ini tertambat pada aktivis SWC itu? Haruskah Pia menelan pil pahit di usianya yang masih belia? Siapakah sosok misterius yang berkali-kali ditampilkan dalam kisah ini?

***

REVIEW

Saujana Cinta adalah buku ke-7 Kak Indah Hanaco yang kubaca. Dan seperti biasanya, aku pun sangat menyukai karyanya yang satu ini. Saujana Cinta bukan hanya novel romance biasa yang mengumbar adegan percintaan anak manusia. Selain bernuansa romance, buku ini begitu kaya akan pengetahuan umum dan bahkan sejarah, juga sarat akan pesan-pesan seputar lingkungan hidup dan pencarian akan Tuhan. Hebatnya, gaya penulisan Kak Indah Hanaco sama sekali tidak terkesan menggurui loh!

“… Aslinya, kaktus tumbuh di gurun. Di sana itu sangat jarang hujan dan cuacanya panas. Jadi, tiap kali mendapat air, kaktus menyimpannya di batangnya. Satu lagi, duri itu sebenarnya daun kaktus.” [hal. 116]

Tokoh Pia Miriam yang masih belia dan periang justru menjadi tokoh yang banyak memberikan ilmu kepada para pembaca buku ini. Ya, gadis ini suka sekali bercerita kepada teman-teman ciliknya dan tidak jarang harus menjawab berbagai pertanyaan dari bibir mungil mereka. Dari situ lah pengetahuan pembaca akan bertambah secara menyenangkan. Tidak hanya berbicara seputar pengetahuan umum, ucapan-ucapan Pia pun begitu bermakna seputar keyakinan yang dianutnya.

“… Manusia kadang memang harus melewati jalan tertentu yang akan memantapkan hati. Itu… katakanlah semacam pencarian yang tidak bisa dijelaskan.” [hal. 36 ~ Selma]

Sebenarnya kalau disuruh memilih, aku agak bingung menentukan tokoh favoriteku. Semua tokoh punya perasanan masing-masing dalam membangun kisah yang menawan ini. Namun jika harus memilih, maka salah satu tokoh favoriteku adalah Selma. Meskipun tidak terlalu sering muncul, dia punya peran yang cukup penting dalam menenangkan gemuruh di hati Pia, terutama tentang keputusannya menunda mengenakan jilbab. Menurutku, kadang kita pun perlu seseorang yang mendukung keputusan kita disaat semua orang tampaknya justru mempertanyakan keputusan tersebut. Nah! Selma ini adalah sosok yang seperti itu bagi Pia.

“… Aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa pasangan yang seiman adalah syarat yang tidak bisa ditawar-tawar….” [hal. 155]

Gelar tokoh yang paling menyebalkan dan tidak kusukai dalam Saujana Cinta dengan sukses disabet oleh Runa! Loh kok Runa? Bukankah dia adalah gadis pujaan Alec? Iya! Aku sebel setengah mati sama Runa! Karena kata-katanya yang ambigu itu telah disalahartikan oleh Alec. Akibatnya hal ini malah membuat pecinta paus itu merana luar biasa. Belum lagi ditambah dengan Pia yang ikut-ikutan remuk hatinya melihat betapa tersakitinya Alec oleh sang kakak.

Sekalipun Saujana Cinta juga mengisahkan pencarian akan Tuhan, sama seperti dalam Jemima Untuk Tuhan, buku ini gak lantas menjelma jadi buku religi. Pesan-pesan yang disampaikan begitu indah dan tidak membuat pemeluk agama lain jadi antipati dengan tokoh-tokohnya.

Sama halnya dengan Perfect Purple, Saujana Cinta juga diwarnai aksi penyelamatan paus. Namun dalam Saujana Cinta dikisahkan juga upaya penyelamatan lingkungan oleh para aktivis di bidangnya masing-masing, bahkan ada twist menegangkan yang tersebar disana-sini. Sekalipun aku sempat menebak endingnya, aku kecele juga loh! Kak Indah berhasil bikin aku nangis bombay diakhir cerita ini.

Untuk kalian yang sudah pernah membaca Perfect Purple dan Jemima Untuk Tuhan WAJIB BANGET baca buku ini! Tapi buat yang belum pernah baca kedua buku itu tenang saja. Kalian masih bisa menikmati Saujana Cinta kok, karena meskipun memiliki benang merah dengan kedua buku sebelumnya, kisah Alec-Pia ini berdiri sendiri.

Oh iya, di buku ini bertebaran banyak sekali quote menarik yang makjleb! Beberapa diantaranya aku share dibawah ini:

Dia sudah melihat sendiri bagaimana agama dijadikan alasan manusia di luar sana untuk berperang dan menyakiti orang lain. Agama menjadi legitimasi saat seseorang melakukan kekerasan dan kejahatan yang melukai kemanusiaan. Dan Tuhan diam saja menyaksikan semua itu. Tuhan seakan senang diperebutkan oleh golongan-golongan yang bertentangan itu. [hal. 25 ~ Alec]

 

Dia tidak ingin memaksakan diri memakai pakaian yang melindungi auratnya demi menyenangkan hati kedua orangtuanya. Gadis itu yakin, seharusnya ia berjilbab karena memang ingin mengikuti perintah Allah, bukan perintah manusia. [hal. 29-30 ~ Pia]

 

“Berjuang untuk makhluk lain itu ladang amal yang luar biasa. … Karier? Menjadi anak nomer dua itu karier yang tidak dimiliki semua orang” [hal. 31 ~ Kemal]

 

“Aku tahu kamu masih sangat muda. Cuma memang kadang-kadang masalah hidup itu tidak memandang usia…” [hal. 36 ~ Selma]

 

‘Aku cuma mau terlibat kampanye di lautan. Jadi, jangan tawari aku menghadiri acara-acara formal. Aku lebih fasih berkomunikasi dengan paus ketimbang manusia’ [hal 43 ~ Alec]

 

“Kamu sebenarnya berkerabat dengan paus, bukan manusia.” [hal. 45 ~ Aika]

 

“… Tapi, kebanyakan yah…tidak menjalankan ritual agamanya dengan baik. Seolah agama itu permainan saja. Agama jadi alat barter. … Jangan tertarik memeluk suatu agama hanya karena seseorang. Tuhan itu harganya luar biasa mahal,… Tidak layak diganti seenaknya hanya karena… “[hal. 159 ~ Pia]

 

“Aku maklum kok! Masalah hati memang runyam,” [hal. 171 ~ Kishi]

 

Mencintai dua orang di saat bersamaan, mungkinkah itu?

Tentu saja mungkin! [hal. 207]

 

I love you Pia Miriam, because of Allah. [hal.236 ~ Alec]

Meskipun aku masih menemukan beberapa typo dalam buku ini, hal ini tidak mengganggu keasyikan membaca kok. Semoga ini bisa jadi catatan bagi penerbit untuk dapat memperbaiki cetakan berikutnya.

 

Typo

Bukan baru sekali-dua Alec harus berhadapan … [hal. 20]

seharusnya>> Bukan baru sekali-dua kali Alec harus berhadapan …

 

Ci Runa bukan orang pertama meragukan niatku. [hal. 28]

seharusnya>> Ci Runa bukan orang pertama yang meragukan niatku.

 

Nino belum bisa menerima fakta bagaimana… [hal. 43]

seharusnya>> Alec belum bisa menerima fakta bagaimana…

 

Untungnya, kali ini Kishi tidak secerewet biasa. [hal. 122]

seharusnya>> Untungnya, kali ini Kishi tidak secerewet biasanya.

 

Alec tegolek dengan wajah pucat dan tangan kiri diinfus. [hal. 122]

seharusnya>> Alec tergolek dengan wajah pucat dan tangan kiri diinfus.

 

Semakin tak masuk akan saja semuanya. [hal. 124]

seharusnya>>Semakin tak masuk akal saja semuanya.

 

…konsentrasi Alec sulit diimpun. [hal. 187]

seharusnya>> …konsentrasi Alec sulit dihimpun.

 

Selain terdapat beberapa typo, aku juga sempat mencatat ada penggalan kata yang kurang pas:

ket-ertarikan >> ke-tertarikan [hal. 56]

men-gatakannya >> me-ngatakannya [hal. 56]

***

 

Submitted for:

Indah Hanaco Reading Challenge 2016 (IHRC2016)

Reading Romance Challenge 2016

Young Adult Reading Challenge (YARC)

Project Baca Buku Cetak 2016 (#BacaBukuCetak)

 

Advertisements

5 thoughts on “Saujana Cinta

  1. Whaaaat?! Berarti aku wajib baca ini ya? Hmm baiklah. Akan kuusahakan. Soalnya aku uda baca Tuhan untuk Jemima sih hihihihi.

    Baru tahu deh kalau Alec jadi main char di sini. Akhirnya dia punya porsi sendiri setelah cuma jadi pemeran pendukung di TUJ. 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s