Romance · Young Adult

Love in Paris

Love in Paris

Title: Love in Paris

Author: Silvarani

Editor: Donna Widjajanto

Cover: Orkha Creative

Layouter: Nur Wulan

Published: March 16, 2016 (Gramedia Pustaka Utama)

Pages: 224

ISBN: 9786020326610

Harga: – (Buntelan dari penulis dalam rangka #BacaBareng #LoveinParis)

Genre: Romance – YA

Rate: thumbsthumbsthumbsthumbs

 

BLURB

BLURB Love in Paris

***

SINOPSIS

“aku nggak mengharapkan kedatangan dia. Dengan dia nggak dateng kayak gini, aku cukup tahu kalo dia emang udah nggak nganggep Sheila penting lagi.” [hal. 8]

Sheila Adeeva Djayanti pergi ke Paris dengan hati patah. Ya, gara-gara keputusannya untuk melanjutkan studi di Paris, Sony, cowo yang selama ini diimpikan akan bersanding dengannya di pelaminan, malah keberatan untuk meneruskan hubungan mereka. Cowo yang bercita-cita jadi dokter spesialis jantung itu memilih putus dengan Sheila ketimbang harus menjalani LDR selama gadis berstudi di Paris. Tentu saja hal ini membuat Sheila sedih luar biasa. Namun, ia tetap pada pendiriannya: mengejar mimpinya studi di Paris.

“Mencari jalan keluar dari jalan buntu itu cuma buang-buang waktu. Lebih gampang kalau kita keluar lagi dari jalan itu dan mencari jalan yang baru…”[hal. 19]

Cowok berwajah imut dan berkacamata yang juga teman masa kecil Sheila itu sudah menjadi pacarnya sejak SMA. Sony gak habis pikir bahwa Sheila dengan begitu egoisnya mengutamakan kepentingan dan keinginan pribadinya diatas hubungan mereka berdua. Padahal gadis itu juga tahu benar bahwa sama seperti dirinya, Sony pun memiliki impian yang ingin dia bangun. Dan LDR bukanlah bagian dari impian itu.

Jika memang benar Paris adalah kota yang romantis, pasti ia bisa membalut sakit hati Sheila karena kepergian Sony dari hidupnya. [hal. 38]

Kehidupan Sheila di Paris yang awalnya menjemukan akhirnya penuh warna sejak pertemuannya kembali dengan Leon, sahabat masa kecil kakaknya yang saat ini sudah menjadi seorang fotografer profesional. Bahkan berkat jasa Leon lah Sheila akhirnya bisa berkeliling kota Paris yang cantik itu. Bersama Leon juga Sheila mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya “Paris… tragis atau romantis?”

Tanpa ikatan perkawinan, bagi Leon rasanya kehidupan asmara pasangan justru semakin romantis dan berjalan apa adanya. Tak ada hukum kewajiban dan hak seperti yang diatur dalam perkawinan. [hal. 75]

Sheila sebenarnya agak kecewa dengan Leon karena dianggapnya cowok itu sudah gak sebaik dulu. Kehidupan Leon yang banyak dipengaruhi budaya Prancis justru membuat Sheila kurang nyaman berada di dekatnya. Belum lagi karena alasan pekerjaan, Leon mau tak mau memang banyak terlibat dalam kehidupan malam di kota itu. Namun ia pun tak bisa memungkiri harapannya untuk membawa Leon kembali ke jalan Allah.

Memang, hidayah sulit dicari, tetapi sesungguhnya bertebaran dimana-mana. Pilihannya ada di tangan manusia. Ingin mengambilnya atau tak memedulikannya. [hal. 90]

Kebersamaan yang terjalin diantara Sheila dan Leon akhirnya mulai membuka mata Leon akan indahnya menjadi seorang muslim. Perlahan-lahan ia belajar shalat, bahkan mengaji! Tentu saja hal ini membuat Sheila merasa bangga sekaligus terharu. Ia mulai memercayai bahwa Leon dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan lebih dari itu! Sheila mulai percaya bahwa Leon akan dapat menjadi seorang imam yang baik.

“…Tapi, setelah aku kenal dan tahu pemikiran kamu, aku jadi tahu kenapa orang-orang Islam itu nggak maju! Itu karena kalian terlalu konservatif! Kalian cepat memandang negatif orang! Kalian terlalu merasa suci dan merasa jijik bergaul dengan komunitas di luar bagian kalian! Salah satunya adalah orang yang banyak dosa macam aku begini! Akibatnya, kalian tidak pernah tahu hal-hal yang terjadi di luar pemahaman kalian! Kalian tidak open minded!”

Ketika rasa percaya Sheila ke Leon mulai membuncah, ia lagi-lagi harus menelan pil pahit karena cowok ganteng itu punya pemikiran yang luar biasa mencengangkan mengenai Islam. Ditambah lagi Leon juga mulai kembali ke kehidupan lamanya. Haruskah Sheila bertahan di sisi cowok itu? Benarkah Leon sungguh-sungguh ingin menjadi pemeluk agama Islam yang baik? Akankah Paris menampakkan wajah aslinya kepada Sheila dan membuat gadis itu mewujudkan impiannya?

***

REVIEW

Love in Paris adalah salah satu dari keempat buku pertama yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama di bawah seri Around The World With Love. Meskipun seri ini terdiri dari beberapa buku, masing-masing kisahnya berdiri sendiri sehingga kita tetap dapat menikmati keseluruhan buku ini meskipun belum membaca ketiga buku lainnya. Buku ini sendiri adalah karya pertama Silvarani yang kubaca. Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga, penulis seolah mengajak kita berkeliling menikmati Paris melalui tokoh utama Sheila.

“Aku kagum sama orang Prancis.”…”Mereka begitu menghargai apa yang mereka miliki. Mereka juga menjaga semua peninggalan leluhur mereka.” [hal. 151]

Ada begitu banyak tempat iconic di Paris yang dikunjungi oleh Sheila sepanjang ia berstudi di Paris. Hal ini tentu saja merupakan keasyikan tersendiri bagi pembaca karena secara gak langsung kita turut menikmati perjalanan Sheila. Mulai dari La Tour Eiffel, Château de Versailles, Musée du Louvre hingga Arc de Triomphe. Tak hanya itu, Love in Paris juga menyuguhkan La Grande Mosquée de Paris dan  l’Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne: Institut de Recherche et d’Études Supérieures du Tourisme yang menjadi latar utama kisah ini. Yang satu adalah sebuah Masjid Agung yang terletak dekat apartemen Sheila, sedangkan yang satunya sudah pasti kampus dimana Sheila mengenyam ilmu.

 

“Tuhan kan udah menciptakan otak yang luar biasa buat manusia untuk berpikir. Jadi, rasanya rugi kalau kita membatasi kegunaannya dengan tidak berpikir macam-macam.” [hal. 154]

Secara garis besar, Love in Paris berkisah tentang kegalauan hati Sheila yang sepertinya sulit sekali move on dari mantan pacarnya dan juga upayanya untuk lepas dari label anak manja. Meskipun Sheila terlihat labil dan kadang kekanak-kanakan, sering juga secara tak terduga ia mengungkapkan hal-hal yang “makjleb” layaknya seorang filsuf.

“Aku maunya diingetin sama kamu. Bukan sama aplikasi itu. Kamu keberatan nggak?” [hal. 158]

Yang tak kalah menarik adalah perjuangan spiritualitas Leon dalam pergulatannya untuk menemukan kembali imannya. Ada begitu banyak pertanyaan kritis dari Leon yang akhirnya justru memancing emosi Sheila. Padahal Leon sesungguhnya benar-benar sedang haus mencari kebenaran jawaban atas pertanyaan-pertanyaan batinnya. Sekalipun Sheila banyak berjasa dalam membimbing Leon, konflik yang terjadi justru banyak dipicu juga oleh ketidakdewasaan dan kekolotan sikap gadis belia itu.

“Nabi Muhammad aja dikasih kotoran sama kaum Quraisy tetep tenang dan konsisten nyebarin agama Islam ke kaum itu. Kamu? Cuma diomongin kata-kata yang sebenernya juga nggak pedes-pedes amat, udah putus asa nemenin tuh orang ke jalan yang benar.” [hal. 179]

Salah satu tokoh favoriteku dalam Love in Paris ini justru sosok Abel, kakaknya Sheila. Meskipun seusia dengan Leon, nampaknya Abel yang mengaku gak terlalu religius ini justru paham betul bagaimana Islam harus dikenalkan kepada seseorang dengan latar belakang seperti Leon. Nasehat yang disampaikan Abel ke adiknya juga bagus banget deh! Menohok tanpa terkesan terlalu menggurui.

“Rasanya buang waktu aja kalau habis cuci mata, kita malah harus cuci otak karena banyak melihat hal yang seharusnya kurang sopan untuk dilihat” [hal. 97-98]

Sebenarnya konflik yang ada masih sangat bisa untuk digali lagi lebih dalam, mengingat ada begitu banyak tantangan yang harus dihadapi kedua tokohnya dalam kisah ini. Konflik yang disajikan pun sebenarnya sangat berbobot, sehingga agak sayang jika harus diselesaikan dengan terburu-buru. Namun endingnya bisa dibilang oke banget nih kalau divisualisasikan dalam format movie. Pasti bakalan bikin kamu mupeng berat! >.< Pastikan kamu beli dan baca buku ini ya!

“Buktinya, ada jajaran lukisan yang menggambarkan peristiwa sejarah Prancis kayak gini. Para pengunjungnya pun banyak. Berarti, masyarakat Prancis itu sadar dan menghargai bahwa hari ini tidak akan ada tanpa kemenangan di hari kemarin.” [hal. 149]

Terlepas dari romantisme kota Paris, buku ini juga dengan menarik menyelipkan sejarah Prancis disana-sini loh! Ditambah lagi, beberapa kisah yang juga mengandung sejarah Islam. Sangat menarik untuk dibaca, bahkan oleh penganut agama lain sekali pun. Tenang, ini bukan buku religi kok, tapi justru ada banyak hal yang dapat pembaca ambil dari pengalaman iman Sheila dan Leon selama mereka berada di Paris. Secara gak langsung hal ini membuat kita juga mengevaluasi diri untuk tidak mudah menilai orang hanya karena dia memiliki pengalaman spiritualitas yang berbeda dengan kita. Sebaliknya, jika kita melihat ada orang yang sedang berjuang menemukan spirtualitasnya, ada baiknya kita ikut membantu dan bukan hanya mencemoohnya. Oh iya, kita juga diingatkan bahwa perubahan yang kita harapkan dari seseorang itu mustahil terjadi secara instan! Semua butuh waktu untuk berproses ke arah yang lebih baik.

Love in Paris juga memiliki segudang quote menarik loh! Saking banyaknya, buku Love in Paris milikku sampai penuh dengan post-it penanda quote ^^. Selain beberapa quote yang sudah kuselipkan dalam sinopsis dan review diatas, berikut ini juga masih ada beberapa quote menarik lainnya (sebagian dalam bentuk pic-quote):

Padahal, suatu hubungan itu dijalankan oleh dua orang. Seharusnya, keputusan itu berdasarkan hasil kesepakatan bersama. [hal. 17]

quote 38

…, jika setelah malam ada pagi, apakah setelah kisah lama ada kisah baru? [hal. 21]

la mosquee de Paris

… Paris tak mengizinkan penduduknya kesepian. [hal. 47]

la tour eiffel quote 62

Memang lebih enak melaksanakan shalat berjamaah daripada shalat sendirian. Walaupun tidak kenal dengan semua orang yang mengikuti shalat berjamaah, kita sudah saling bahu-membahu, bekerja sama meraih pahala dan rida dari Allah. [hal. 90]

Paris-At-Night-Quote 65

“Teknologi itu diciptakan untuk mempermudah hidup orang, kan? Bukannya membuat orang jadi tambah susah atau tambah sesat.” [hal. 118]

quote 69

“memangnya shalatku bakal diterima? Malu juga aku ngadep Tuhan. Terakhir shalat Zuhur mungkin lima tahun yang lalu.” [hal. 128]

quote 75-76

Cinta? Perasaan itu diberikan Allah untuk manusia. Allah berikan hati untuk merasakannya. Allah berikan otak untuk mengendalikannya. Allah berikan iman untuk mengarahkannya ke jalan yang benar. [hal. 165]

quote 97

“…orang salah itu bukan orang yang melakukan kesalahan, tapi orang yang sudah tahu itu salah, tapi masih juga dilakukan…” [hal. 181]

quote 123

Sebaliknya, meski dalam keadaan kenyang, mereka akan menerima makanan pemberian kita, selama kita memberinya dengan tulus dan penuh kasih sayang. “hal. 193]

versailles

Akhir cinta yang ditutup oleh kematian tentu saja lebih indah dibandingkan akhir cerita karena pengkhianatan. [hal. 195]

versailles-hall-of-mirrors

Meskipun aku masih menemukan beberapa typo dalam buku ini, hal ini tidak mengganggu keasyikan membaca kok. Semoga ini bisa jadi catatan bagi penerbit untuk dapat memperbaiki cetakan berikutnya.

Typo

mengancungkan [hal. 4, 188] >> mengacungkan

para penumpang,termasuk Sheila. [hal. 11]>> para penumpang, termasuk Sheila.

terniang-niang [hal. 12]>> terngiang-ngiang

bengat [hal. 27]>> banget

memperhatikan [hal. 32]>> memerhatikan

dedaunan-dedaunan [hal. 41] >> dedaunan

mengenggam [hal. 62]>> menggenggam

Coraline [hal. 86] >> Cornelie

memenggerakkan [hal. 97]>> menggerakkan

Selain terdapat beberapa typo, aku juga sempat mencatat ada penggalan kata yang kurang pas:

pemot-retan [hal. 63]>> pemo-tretan

memot-ret [hal. 73-74]>> memo-tret

***

 

Submitted for:

Reading Romance Challenge 2016 [Trip to Europe]

Young Adult Reading Challenge (YARC)

Project Baca Buku Cetak 2016 (#BacaBukuCetak)

 

Advertisements

3 thoughts on “Love in Paris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s