Romance · Young Adult

Love in Adelaide

cover

Title: Love in Adelaide

Author: Arumi E.

Editor: Donna Widjajanto

Cover: Orkha Creative

Layouter: Nur Wulan

Published: February 18, 2016 (Gramedia Pustaka Utama)

Pages: 240

ISBN: 9786020325453

Harga: – (Buntelan dari penulis dalam rangka #BacaBareng #LoveinAdelaide)

Genre: Romance – YA

Rate: thumbsthumbsthumbsthumbs

 

BLURB

Aleska tak punya pilihan selain mengikuti ibunya memulai hidup baru di Adelaide, tinggal serumah bersama dua saudara tiri dengan karakter berbeda. Zach Mayers yang overprotective dan Sarah Mayers yang tak pernah bersikap manis.

Hidup yang sulit di negeri baru terasa lebih ringan sejak Aleska mengenal Neil Wilkins, pemuda Australia berdarah Inggris-Aborigin. Rekan sekerja yang menyelamatkannya dari pemuda-pemuda mabuk ini sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup sebagai keturunan Aborigin. Dari kebersamaan, perlahan tumbuh perasaan yang sulit dicegah. Keduanya tak mampu berpisah walau ada jurang perbedaan besar di antara mereka. Kerumitan bertambah ketika Sarah secara terang-terangan menggoda Neil dan Zach tak bosan-bosannya mengingatkan Aleska tentang rambu-rambu agama yang tak boleh dilanggar.

Ketika masa tinggal Aleska di kota itu berakhir dan dia harus pulang ke Bandung, ada tanya yang menggelayuti hatinya: Haruskah dia kembali ke Adelaide untuk memperjuangkan hubungannya dengan Neil? Apa pula misi Zach yang tanpa terduga menyusulnya ke Bandung?

***

SINOPSIS

“Siapa yang bisa mengelak dari  jodoh yang sudah ditetapkan Tuhan?” [hal. 51]

Aleska benar-benar tidak menyangka bahwa yang bersanding di pelaminan itu bukanlah dirinya, melainkan Ibunya! Ya, setelah 10 tahun berjuang sendirian membesarkan anak gadisnya, kini sang ibu akhirnya meraih kebahagiaannya dengan seorang pria berkebangsaan Australia. Dan karena itulah, saat ibunya memutuskan tinggal di Adelaide bersama sang suami, mau tak mau Aleska pun ikut.

“… Sejak dulu nenek moyang kami sudah mengajarkan bagaimana berbuat baik pada alam dan sesama makhluk hidup. Tidak perlu agama untuk menjadi orang baik. Alam sudah mendidik kami menjadi baik.” [hal. 62]

Pertemuannya dengan Neil pun tak terelakkan. Rekan sekerja Aleska itu tidak hanya baik hati, namun ternyata juga memiliki sejarah hidup yang cukup menyakitkan. Diam-diam Aleska pun mulai bersimpati pada cowok keturunan Aborigin itu.

“… Terkadang seseorang bisa di-bully justru karena dia terlalu hebat dan mereka merasa iri.” [hal. 146]

Tidak hanya tinggal dengan ibu dan suaminya, Aleska pun harus menerima kenyataan hidup satu atap dengan saudara-saudara tirinya: Zach dan Sarah. Kalau dengan Zach hubungan Aleska cukup baik, sebaliknya dengan Sarah. Hubungan kedua gadis tersebut bisa dibilang seperti anjing dan kucing.

“… Lain kali aku akan menunjukkan menu andalanku. Indonesia luas sekali, ada banyak sekali kuliner dari berbagai daerah. …” [hal. 150]

Semakin Aleska mengenal Neil, Zach dan Sarah, maka semakin dalam juga konflik yang terjalin diantara keempatnya. Mungkinkah Aleska berhasil survive di Adelaide dengan begitu banyak konflik di sekelilingnya? Atau sebaliknya, Aleska memutuskan untuk kembali ke tanah air?

“… Tapi, akhirnya bergantung pribadi masing-masing. Mau menuruti peraturan, atau melanggarnya.” [hal. 165]

 

REVIEW

Love in Adelaide adalah salah satu dari keempat buku pertama yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama di bawah seri Around The World With Love. Meskipun seri ini terdiri dari beberapa buku, masing-masing kisahnya berdiri sendiri sehingga kita tetap dapat menikmati keseluruhan buku ini meskipun belum membaca ketiga buku lainnya. Buku ini sendiri adalah karya pertama Arumi yang kubaca. Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga, penulis seolah mengajak kita berkeliling menikmati Adelaide melalui tokoh utama Aleska.

“… Setiap orang yang bersalah masih punya kesempatan tobat dan menebus dosa. Aku berpegang pada sifat Allah yang Maha Pengampun dan Pengasih.” [hal. 165]

Tidak hanya Aleska sang tokoh utama, setiap tokohnya memiliki peran yang begitu penting untuk keseluruhan jalinan kisah ini. Ada begitu banyak konflik yang tersaji dalam novel setebal 240 halaman ini. Dan Arumi dengan sangat baik mampu meraciknya menjadi sebuah kisah yang menawan dengan latar tempat Adelaide.

“Aku selalu percaya. Allah Maha Pengasih, Penyayang, dan Pengampun. Itu adalah tiga dari banyaknya sifat Allah. Hanya Allah yang berhak menentukan kamu berdosa atau tidak, kamu diampuni atau tidak. Selama kamu masih diberi hidup, itu artinya kamu diberi kesempatan menebus kesalahanmu dan berubah perlahan menjadi lebih baik.” [hal. 193]

Ada beberapa tempat mengasyikkan yang dikunjungi oleh Aleska sepanjang ia tinggal dan bekerja di Adelaide. Hal ini tentu saja merupakan keasyikan tersendiri bagi pembaca karena secara gak langsung kita turut menikmati perjalanan Aleska. Mulai dari Victoria Square, Rundle Street (Rundle Mall), Semaphore hingga Al Khalil Mosque. Tak hanya itu, Love in Adelaide juga menyuguhkan Granite Island, Victor Harbour, dan  Barossa Valley yang bikin aku mupeng pengen ikutan ke sana^^.

“… Kalau kamu masih hidup hingga detik ini, artinya ini memang sudah ditakdirkan Allah. Sekarang bergantung kepadamu. Allah memberimu kesempatan untuk memilih. Ingin tetap melakukan kesalahan, atau berubah menjadi lebih baik.” [hal. 193]

Seperti yang sudah kusampaikan di atas, konflik dalam novel ini termasuk cukup kompleks loh! Dan aku salut banget karena dengan begitu banyak konflik, novel ini tetap terasa mengalir dan mengasyikkan untuk dibaca. Bahkan semakin mendekati halaman terakhir, ada beberapa rahasia besar yang terungkap dan semuanya bikin makin penasaran! Memang sih, gak semua terselesaikan dalam buku ini, tapi jangan khawatir! Akan ada kelanjutannya dalam Love in Sydney yang akan segera terbit!^^

“Cuma Allah yang menentukan kamu layak hidup atau nggak. Kamu sehat sampai sekarang, berarti kamu layak hidup.” [hal. 193]

Selain memiliki muatan agama, novel ini juga menyinggung mengenai isu sara yang lebih global! Aku suka banget dengan bagaimana Arumi menyelipkan pesan moral disana-sini dalam buku ini. Smooth, tanpa ada kesan menggurui. Kita juga sedikit banyak jadi tahu mengenai sejarah kaum Aborigin di Australia, khususnya Adelaide.

“Aku nggak pernah menganggap semua yang kamu sebutkan tadi sebagai kekuranganmu. Semuanya tertebus kebaikan dan kepedulianmu pada orang lain. Bukan hanya kepadaku, kamu peduli pada siapa saja. … Bagaimana aku bisa menolak rasa suka kepadamu?” [hal. 201]

Baca juga Love in Paris – Silvarani

 

Love in Adelaide juga memiliki beberapa quote menarik loh! Selain beberapa quote yang sudah kuselipkan dalam sinopsis dan review diatas, berikut ini juga masih ada beberapa quote menarik lainnya (sebagian dalam bentuk pic-quote):

1

3

4

8

15

16

18

19

20

21

22

Meskipun aku masih menemukan beberapa typo dalam buku ini, hal ini tidak mengganggu keasyikan membaca kok. Semoga ini bisa jadi catatan bagi penerbit untuk dapat memperbaiki cetakan berikutnya.

Typo:

warganegara [hal. 52] >> warga negara

“Silakan minum dulu, Kamu pasti haus….” [hal. 144] >> “Silakan minum dulu, kamu pasti haus….”

Menjelaang [hal. 150] >> Menjelang

…, membelikannya mainan dan pakaiannya mahal,… [hal. 174] >> …, membelikannya mainan dan pakaian yang mahal,…

sedangmenikmati [hal. 207] >> sedang menikmati

… seakan lenyap.Dia … [hal. 218] >> … seakan lenyap. Dia

bahasa inggris [hal. 225] >> bahasa Inggris

Selain terdapat beberapa typo, aku juga sempat mencatat ada penggalan kata yang kurang pas:

ponse-lnya (hal. 90) >> ponsel-nya

***

23

 

Submitted for:

Reading Romance Challenge 2016

Young Adult Reading Challenge (YARC)

Project Baca Buku Cetak 2016 (#BacaBukuCetak)

 

Advertisements

4 thoughts on “Love in Adelaide

  1. Love in Adelaide. Sebelumnya lewat Merindu Cahaya De Amstel sebagian besar aku sedikit kenal dengan gaya kepenulisan Mbak Arumi. Porsi kisahnya selalu pas dan nuansa romannya pun gak terlalu manis. Sangat cukup untuk ukuran roman dengan paduan religi.

    Di Love in Adelaide, terutama di review Kak Kitty sangat banyak ditemukan kutipan-kutipan yang menggugah, terlebih dalam hal nasehat yang disampaikan penulis, sangat mengena namun tidak frontal dalam penyampaiannya. Salah satunya “… Sejak dulu nenek moyang kami sudah mengajarkan bagaimana berbuat baik pada alam dan sesama makhluk hidup. Tidak perlu agama untuk menjadi orang baik. Alam sudah mendidik kami menjadi baik.” [hal. 62]. Kutipan ini menurutku sudah bercerita banyak bagaimana seharusnya kehidupan. Pada dasarnya berbuat kebaikan tidak mengenal agama yang menjadi anutannya, sebab semua kembali pada kepribadian masing-masing dan lingkungan tempat ia bergaul. Singkatnya agama hanya mengajarkan cara-cara dalam melakukannya (kebaikan), untuk kiprah ke alam semua bergantung pada manusia itu sendiri. Top. Love it. Semoga berkesempatan baca buku ini nantinya. Aamiin.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s