Giveaway

Wander Woman [review + photoquote quiz]

cover

Title : Wander Woman

Author: Nina Addison, Irene Dyah, Fina Thorpe-Willet, Silvia Iskandar

Illustrator: Ella Elviana

Cover: Orkha Creative

Published: September 2016 (Gramedia Pustaka Utama)

Pages: 360

ISBN: 978-602-0333-75-5

Harga: –

Genre: Family – Cultural

Rate: thumbsthumbsthumbsthumbsthumbs2

BLURB

Tolkien mengatakan,“Not all those who wander are lost.” Tidak semua orang yang berkelana kehilangan arah. Tanyakan saja pada Arumi, Cilla, Sabai, dan Sofia—empat sahabat yang terpencar di berbagai negara. Dalam cerita mereka yang terinspirasi dari kisah nyata ini, “tersesat” punya makna berbeda. For them, home is never a place, but people—and sometimes even suitcases.

Kisah mereka bergulir dengan menarik dan membuat saya sebagai pembaca tak sabar untuk membalik setiap lembarnya. Inspiratif dan membuka wawasan!
—Rina Suryakusuma, penulis novel Gravity dan Falling

The best mother is the mother who adapts. Melalui keseharian empat sahabat ini, kita diajak mengingat salah satu kunci utama menjalankan peran seorang ibu: adaptasi.
—Prameshwari Sugiri, Pemimpin Redaksi & Pemimpin Komunitas Ayahbunda & Parenting Indonesia

Kisah para istri yang “dipaksa” hidup nomaden ini membuka mata mengenai budaya dan gaya hidup di luar Indonesia, dilihat dari kacamata orang-orang Indonesia.
—Susan Poskitt @pergidulu, travel writer

***

Sinopsis

Mereka berempat hanyalah wanita-wanita biasa yang berusaha tetap waras dan bahagia, berusaha tidak tersesat dibawa berkelana tinggal di berbagai negara. [hal. 7]

Wander Woman dalam buku ini adalah plesetan tak sempurna dari kata “wander” yang dikawinkan dengan Wonder Woman. Wander: rajin berkelana. Tepatnya, dipaksa nomadik. Wonder Woman: wanita yang tiap hari bertugas menjinakkan dunia, karena semua orang menganggap dia semacam superhero.

Dalam buku ini, superhero alias Wander Woman kita adalah 4 wanita, yang meskipun terpisah oleh samudera dan jarak beratus-ratus kilometer, namun tetaplah bersahabat. Thanks to technology!^^

Priscilla (Cilla), city girl yang observant. Hanya nyaman jika situasi serba terkontrol, tak heran dia gampang stres oleh ketidakmenentuan. [hal. 6]

Cilla membawa kita menyusuri kisahnya di Houston, Amerika Serikat dan Skotlandia, tepatnya Inverurie. Meski diklaim hanya nyaman jika situasi serba terkontrol, istri William dan ibu dari Alex dan Emily ini termasuk tangguh loh! Bayangkan saja! Saat sedang hamil tua, ia masih saja semangat mengambil tes untuk mendapatkan sim di Skotlandia. Dan hebatnya lagi, ia bisa survive meskipun kemalingan mobil dan bahkan sempat ditubruk langsung oleh kedua maling tersebut!

Sabai, si Uni Padang. Di antara mereka berempat, jelas dia bukan yang paling feminim. “Not your average ladylike mother”, begitu dia mendeskripsikan diri,… [hal. 6]

Bersama sang suami, Mark, dan ketiga gadis kecilnya: Lexie, Emma dan Ariana, Sabai mengajak kita ke Britania Raya dan Korea! Jika di London, kita menyaksikan keseruan Sabai menaiki Double Decker bersama ketiga gadis kecilnya dan kehebohannya saat rebutan Burberry trench coat dengan 3 wanita asia lainnya, maka di Korea kita akan dibuat terbengong-bengong oleh oppa tentara yang “jago dandan” serta kebrutalan pengendara di jalanan negeri gingseng!

Sofia, potret tipikal perempuan yang tidak jelas dia sendiri mau apa. [hal. 7]

Sofia adalah satu-satunya yang bekerja diantara empat sahabat dalam buku ini. Kehidupannya yang penuh warna bersama Ronald, sang suami, dan kedua buah hatinya: Celly dan baby Juju, tercipta di negeri kangguru, tepatnya di Sydney. Komunitas emak-emak nusantara, kegalauan karena ingin kembali berkarier, pergaulan dengan seorang Roman Goddess of Wisdom, hingga kehebohan melahirkan di Sydney dipaparkan dengan menarik oleh perempuan yang dreamy dan suka mellow ini.

Arumi, yang sadar betul otaknya ada di dalam dada. Dia 120 persen berpikir menggunakan hati, perasaan, dan berdasarkan “kata orang”. [hal. 6]

Melalui Arumi, kita diajak berkeliling Jepang dan Thailand, lengkap bersama dengan Yuza sang suami dan kedua bocah manis: Raya dan Tahlia. Jepang dengan kesopanan penduduknya memang selalu memesona, namun tingginya biaya hidup di Tokyo tentunya bikin kita mikir seribu kali sebelum memutuskan untuk tinggal di sana. 24-hours non-stop of Thailand pastinya akan lebih menarik untuk para single dan bukannya ibu dengan 2 balita! Semuanya tersaji dengan apik oleh perempuan yang selalu merindukan kampung halamannya ini.

***

Review

Persahabatan keempat perempuan dalam Wander Woman ini terasa begitu menyejukkan. Ya, sekalipun mereka terpisah oleh jarak, itu tak menghalangi mereka untuk tetap berkomunikasi. Dan berkat persahabatan mereka jugalah akhirnya buku kece ini pun lahir! Yeayyy!

Sekalipun kejadian dan tokoh-tokoh dalam buku ini nyata adanya, itu tak membuat Wander Woman jadi membosankan untuk dibaca! Sebaliknya, kolaborasi keempat penulisnya justru mampu meramu kisah-kisah ajaib didalamnya menjadi sangat menarik untuk dibaca dan bahkan untuk diceritakan kembali! Yup! Tak terbilang berapa kali aku sudah membicarakan dan merekomendasikan buku ini kepada teman-temanku.

Penulisan yang dinamis dan gaya bertutur yang khas dari setiap penulisnya memberi warna tersendiri bagi Wander Woman. Belum lagi berbagai fun facts menarik yang dipaparkan di setiap kisah mampu memberikan sebuah informasi baru mengenai budaya dan gaya hidup di kota atau negara yang menjadi latar kisah.

Buku ini cocok dibaca oleh semua kalangan, terutama oleh mahmud alias mamah-mamah muda. Soalnya keempat tokoh dalam Wander Woman juga adalah para mahmud kece loh! Hohoho. Oh iya, untuk kamu yang berencana travelling ke luar negeri atau bahkan living abroad, buku ini wajib kamu miliki dan baca! Serasa punya guide book keren deh!

***

Ada begitu banyak quote menarik yang bertebaran dalam buku ini. Ada yang memang bikin hati terenyuh, namun ada juga yang bernada sindiran. Berikut ini deretan quote fave-ku:

Hurricane Ike barangkali jadi tamu yang tak diundang di acara Nicole dan Jake, but along with its wind and hard rain it also brought the essence of humanity. And it was beautiful. [hal. 26]

“…Boyfriends are complicted. We don’t want that, do we? They are just fuck buddies. No strings attached, everyone is happy.” [hal. 40]

Ada dua kegiatan yang gak boleh kamu lakukan bersama suamimu. Betapa pun kamu menyayangi dia. Pertama, jangan pernah melakukan permainan olah raga dengan dia. Kedua, jangan sekali-kali belajar nyetir dengan suami sebagai instruktur. Keduanya ini terlarang karena berpotensi menimbulkan pertengkaran suami-istri. [hal. 47]

Biarin saja dibilang cetek, nyatanya aku dan mal itu seperti orang Indonesia dengan nasi. Nggak bisa lama-lama nggak nyentuh, kalau nggak mau jadi gila. [hal. 53]

“Yap. Setiap kali. Kamu harus yakin mobilmu yang akan berhenti nggak membahayakan mobil di belakang. I know, it’s silly ’cause who does that anymore, right? Tapi itu yang diminta mereka.” [hal. 54]

“Kalau kamu mau cari tantangan baru, silakan jadi instruktur mobil di Jakarta. Dijamin ilmumu bertambah!” [hal. 60]

Kota kecil di pinggiran Aberdeen ini memang selalu kelihatan damai dan tenang. Contoh nyata bahwa manusia dan alam bisa hidup berdampingan tanpa harus saling senggol-menyenggol dengan gahar. [hal.  72]

Perkara mengunci pintu adalah nomor satu, sesuatu yang bayi Jakarta saja sudah tahu. [hal. 77]

Jakarta mengajarkan untuk selalu waspada, nggak menyepelekan situasi karena kesempatan sesempit apa pun bisa disambar oleh oknum kepepet. [hal.77]

Bener ya, kita nggak bisa prediksi apa yang akan terjadi, seberapa pun kita berencana. [hal. 104]

Penumpang nggak bener bisa ditemui di mana saja. Asal kita bukan salah satunya. [hal. 104]

Because our life must go on, we have to move on. Seperti roda bus double-decker yang tak lelah berputar. Round and round… [hal. 104]

“Kalau begitu, harusnya ada BB cream khusus tentara, biar tentara negara lain bisa makin cakep setelah bertahun-tahun berbakti.” [hal. 145]

Penampilan bisa memengaruhi jalur rezeki seseorang, meskipun dia tidak berkecimpung di dunia modelling atau keartisan. [hal. 145]

Pindah lajur juga biasa nggak pakai sinyal, sen kanan-kiri gitu. Heran deh. Sopir bajaj saja masih mau pakai tangan kan ya? [hal. 156]

Kalau kita berpikir tingkat kemewahan mobil berkolerasi dengan tingkat kecerdasan dan kesopanan di jalan raya, maka kita salah besar. [hal. 156]

Hanya sopir Metro Mini dan Tuhan yang tahu ke mana kendaraan itu akan bergerak. [hal. 157]

Aku tahu pasti anak, apalagi yang cerdas begini, adalah anugerah dan bukan musibah. Tapi bisa nggak ya cerdasnya bukan untuk menjadi bumerang buat ibunya? [hal. 162]

Semua pembicaraan serius, apalagi emosional, nggak pernah kami lakukan dekat anak-anak, demi kebaikan mereka. [hal. 169]

Ya, kami orang asing. Selalu disangka punya banyak uang. Ingin sekali aku meluruskan stigma itu. Kami hanya orang asing, buka mesin ATM. [hal. 172]

Aku yakin, di mana pun kita tinggal, pasti ada tantangan di jalanan. [hal. 174]

… betapa murni dan lugunya anak-anak, bisa bermain bersama tanpa ada beban sosial, tanpa perlu memasang senyum imitasi. [hal. 179]

Duit sih bisa dicari lagi, tapi waktu kan nggak bisa. [hal. 180]

Tahukah Anda, semakin palsu sebuah senyuman, semakin lebar sudut tariknya di pipi? [hal. 192]

“Namanya alergi tidak bisa disembuhkan, kita harus belajar hidup dengannya. Satu-satunya cara pencegahan ya, kita hindari penyebab alergi itu. Dan tubuh manusia bisa alergi terhadap apa pun. Apa pun!” [hal. 204]

…menurutnya keadaan psikis dan fisik bertautan. Pikiran-pikiran negatif dan keputusankulah yang menjadi sumbatan energi. [hal. 211]

Puluhan penolakan yang datang bertubi-tubi, mengikis habis rasa percaya diriku. [hal. 212]

Titik-titik energi yang tersumbat, atau apa pun itu, jebol semua. Onak-onak duri yang tadinya menancap di otak perlahan lucut sendiri. [hal. 212]

“…but I just think, manusia berusaha terlalu keras untuk memanipulasi alam, padahal sebenarnya tidak perlu.” [hal. 217]

Bukankah sudah terbukti usia hidup manusia jadi lebih panjang karena ilmu pengetahuan? [hal. 217]

“…Manusia hidup dengan cara yang tidak semestinya. They lost connection with their environment. Itulah penyebab penyakit.” [hal. 217]

Berhakkah aku mengeluh? Dengan seorang suami teladan dan anak yang sehat, dengan atap di atas kepala dan kulkas yang selalu penuh makanan…[hal. 226]

Inilah sisi gelap kehidupan ekspat, kami telah menukar kebebasan menentukan masa depan dengan nikmatnya hidup dipelihara perusahaan. [hal. 227]

Aku ada di garis depan perang melawan penyakit-penyakit yang membunuh manusia sebelum waktunya. Aku adalah tentara medis di sebuah perang termutakhir abad ini! [hal. 231]

Sejak kapan aku jadi pengangguran yang hidup bergantung pada suami? [hal. 233]

“… Proses kelahiran normal, biar bagaimanapun harus diutamakan.” [hal. 246]

Yang namanya bayi, semuanya datang ke dunia dengan massive jetlag. Malam-malam mereka aktif berkegiatan. [hal. 250]

Oh, anakku, please, jangan siksa ibumu ini lebih lama. Cepat-cepatlah keluar! [hal. 251]

Believe me, Anda tidak perlu merasakan sakitnya melahirkan untuk menjadi wanita yang utuh. Yang penting ibu dan bayi selamat. Honestly, operasi Caesar dalam keadaan yang tenang adalah cara terbaik untuk bayi dilahirkan…” [hal. 256]

Setergesa apa pun mereka meninggalkan rumah, wanita harus tampil pantas dan rapi. [hal. 266]

Bahkan sepertinya angin telah menerbangkan seluruh kecerdasan dari otakku. [hal. 267]

…orang Jepang kurang nyaman terlalu berdekatan secara fisik dengan orang lain, kecuali kepepet di dalam kereta. [hal. 268]

Kelelahan membuat seluruh tubuhku seperti ayam tulang lunak, tanpa daya. [hal. 272]

Pada saat seperti ini, betul-betul aku merindukan suara ribut abang-abang penjual makanan yang lewat di depan rumah di Indonesia. [hal. 272]

Ternyata rumput di halaman tetangga memang selalu terlihat lebih memukau. [hal. 273]

“tinggal di luar negeri juga ada pait-paitnya.” [hal. 274]

“Lo bakal menjelma jadi pembokat, merangkap sopir, nanny, tukang kebun.” [hal. 274]

“Yang di-posting di Facebook kan yang bagus-bagus doang, bok. Story behind the scene-nya diumpetin rapat-rapatlah…” [hal. 274]

Jelas ini bukan kehidupan keluarga kecil nan indah di kota Tokyo yang dulu kuimpikan. [hal. 274]

Kami sama-sama menangis. Air mataku asli, punya dia palsu. [hal. 275]

“Aku sudah susah payah membersihkan rumah, kamu gampang saja membuatnya basah lagi. Dasar tidak pedulian!” [hal. 276]

“Kegiatan apalagi yang bisa kulakukan, selain berkutat berusaha membereskan urusan rumah tangga yang tanpa bapak ini?” [hal. 279]

“Dia lebih sering ada di sini untukku, daripada suamiku sendiri!” [hal. 280]

“Sadarkah kamu, aku mengikutimu ke sini, mengorbankan semua yang kucapai di Jakarta, tapi ternyata kamu hampir tidak pernah ada untuk keluargamu…” [hal. 280]

“Aku harus bekerja dua kali lebih keras daripada yang lain untuk mengejar semua itu.” [hal. 281]

“Dan terima kasih, kamu berkenan menjadi istri yang begitu hebat bagi pria macam aku. Aku sungguh-sungguh beruntung didampingi wanita sepertimu…” [hal. 283]

Jejak sujud yang rapi di atas tumpukan salju. Mengingatkan aku akan satu kata yang lebih sering kulupakan belakangan ini. Bersyukur. [hal. 285-286]

Ongkos taksi Tokyo terbukti merongrong kesehatan jantung. [hal. 290]

This is not my cup of tea. Lebih tepatnya, bukan selera dompetku. [hal. 291]

“Beauty is pain, dear” [hal. 293]

“Aku mengerti sekali, betapa nikmatnya sesekali bekerja. Jauh dari rumah dan anak-anak. Semacam me-time kan?…” [hal. 297]

Tentu saja mereka tidak kenal urusan berburu beasiswa. Hanya orang melarat seperti aku yang perlu beasiswa untuk sekolah ke luar negeri. [hal. 300]

Mereka berkumpul di satu tempat yang cemerlang oleh cahaya. Sementara aku di sudut lainnya yang gelap penuh sarang laba-laba. [hal. 300]

Kedua anakku tidak pernah harus berlagak punya banyak harta untuk bisa diterima. [hal. 301]

“…Lets just have fun! And give your husband a chance to take care of your kids, all night long!” [hal. 303]

Barangkali dinner kami memang mahal. Tapi persahabatan kami? Priceless. [hal. 304]

Aku selalu percaya ada hal-hal tertentu di dunia ini, yang bila dipasangkan dengan cara saksama pada waktu tepat, dapat menimbulkan sesuatu yang luar biasa. Yang orgasmic. [hal. 307]

Macam primadona kehilangan pamornya. [hal. 309]

Lagipula, rasa percaya diriku telah tergerus hingga titik nol. Bahkan minus. [hal. 311]

Aneh ya manusia. Kalau disuruh malah mundur. Makin dilarang justru tertantang. [hal. 322]

“Kalau demonya rusuh, orang Bangkok juga yang rugi. Jadi kita protes dengan cara meriah dan damai saja. Dari rakyat untuk rakyat!” [hal. 325]

Di sini aksi protes tidak disatukan dengan kekerasan, melainkan dengan kemeriahan dan keramahan khas Negeri Gajah Putih. Yang tidak membikin perut mulas lnataran takut, juga tidak melahirkan kemacetan yang mengganggu karena serba teratur. [hal. 326]

Musim gugur di Tokyo barangkali adalah potongan surga yang jatuh ke bumi. [hal. 331]

“…Tiap anak itu unik dan mereka memiliki gaya masing-masing. Tidak dapat dibandingkan. …” [hal. 334]

Ternyata, di usia pra-sekolah, tidak butuh tampang dan gaya memabukkan untuk digilai para wanita. Kepribadian lebih utama. [hal. 337]

Berita kepindahan yang mendadak, persiapan yang tergesa-gesa, semua berujung pada banyak ketidaknyamanan. Terutama pada anak. [hal. 338]

Yang aku tidak tahu adalah bagaimana memotivasi anakku. [hal. 340]

Aku seorang penulis, sementara anakku menolak mentah-mentah kegiatan menulis. Ironis bukan? [hal. 341]

“Penyakit” anak-anak Indonesia yang lama tinggal di luar negeri, saat pulang kampung, biasanya mereka mengalami gagap-sekolah. [hal. 341]

“… Dia terbiasa memilih apa yang ingin dia kerjakan dan mengetahui alasan mengapa harus melakukannya. …” [hal. 344]

Sepanjang sejarah, belum pernah aku menangis, kehilangan kontrol di hadapan guru anakku. [hal. 344]

…, saat merasa tak nyaman, dia akan diam. Membeku. Masuk ke dalam cangkangnya, dan mengunci pintu dari dalam. [hal. 346]

***

giveaway

Gimana? Setelah baca review, sinopsis dan quotes kecenya pasti kamu mupeng banget kan pengen punya Wander Woman. Ikutan aja kuis photoquote Wander Woman di twitter! Pemenangnya bisa dapetin buku kece ini dannn… mini make up Korea loh! Kece kan?

banner

Syarat dan caranya:

1. Follow blog ini, serta akun twitter dan instagram @womomfey dan @aikairin [WAJIB]

2. Share info GA ini di timeline kamu (via twitter) atau bisa juga retweet banner di twitterku dengan mention @womomfey dan @aikairin dengan menyertakan hastag #NovelWanderWoman

3. Posting photoquote buatanmu di akun twittermu (quote bisa diambil dari berbagai quote yang kuposting disini) dengan mention @womomfey dan @aikairin dengan menyertakan hastag #NovelWanderWoman 

4. Kuis photoquote #NovelWanderWoman ini berlangsung dari tanggal 27 November 2016 sampai tanggal 2 Desember 2016.

5. Kuis photoquote ini hanya berlaku bagi kalian yang memiliki alamat pengiriman di Indonesia ya. Kalau kamu tinggal di luar negeri namun memiliki alamat di Indonesia, berarti kamu masih bisa ikutan loh!

6. Pengumuman pemenang akan dilakukan paling lambat 3 hari setelah berakhirnya kuis photoquote ini.

7. Good Luck

PS: This review is also submitted for:

Project Baca Buku Cetak 2016 (#BacaBukuCetak)

Advertisements

2 thoughts on “Wander Woman [review + photoquote quiz]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s