Mystery · Reading Challenge

The Girl On The Train

new-edition

Title : The Girl On The Train

Author: Paula Hawkins

Translator: Inggrid Nimpoeno

Editor: Rina Wulandari

Proofreader: Axin

Cover: Wida Sartika

Published: September 2015 (Noura Books)

Pages: 431

ISBN: 978-602-0989-97-6

Format: e-book (via i-Jak)

Genre: Mystery – Crime – Thriller – Suspense

Rate: thumbsthumbsthumbsthumbs

BLURB

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Setiap hari dia terguncang-guncang di dalamnya, melintasi sederetan rumah-rumah di pinggiran kota yang nyaman, kemudian berhenti di perlintasan yang memungkinkannya melihat sepasangan suami istri menikmati sarapan mereka di teras setiap harinya. Dia bahkan mulai merasa seolah-olah mengenal mereka secara pribadi. “Jess dan Jason,” begitu dia menyebut mereka. Kehidupan mereka-seperti yang dilihatnya-begitu sempurna. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya sendiri yang baru saja hilang.

Namun kemudian, dia menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini segalanya berubah. Tak mampu merahasiakannya, Rachel melaporkan yang dia lihat kepada polisi dan menjadi terlibat sepenuhnya dengan kejadian-kejadian selanjutnya, juga dengan semua orang yang terkait. Apakah dia telah melakukan kejahatan alih-alih kebaikan?

***

SINOPSIS

Rachel

Dialah The Girl On The Train yang duduk di dekat jendela di dalam kereta yang membawanya dari dan menuju London setiap harinya. Itulah kegiatan rutinnya saat pergi dan pulang kerja dulu. Dan ya, meskipun saat ini ia sudah beberapa bulan tidak bekerja lagi, kebiasaan ini tetap saja ia lakukan. Kenapa? Karena ia harus mempertahankan image dan gengsinya, terutama di depan, Cathy, yang tinggal bersama dengannya di apartemen kecil mereka.

Selama berada dalam kereta itulah Rachel kerap kali bermain dengan pikiran-pikirannya, bercampur baur dengan ingatan serta khayalan. Seperti saat kereta kerap berhenti disebuah sinyal perlintasan, ia kerap mengamati sepasang suami istri yang terlihat begitu bahagia dan penuh cinta: Jason dan Jess, begitulah Rachel menamakan sepasang insan yang tinggal tidak jauh dari rumahnya dulu.

Dulu? Ya, dulu ketika ia dan suaminya, Tom, masih bersama, Rachel tinggal di deretan rumah di seberang sinyal perlintasan kereta api tersebut. Rumahnya hanya berjarak sekitar 50 langkah saja dari rumah Jason dan Jess. Dan karena merindukan kehidupan rumah tangganya yang dulu itulah maka Rachel kini bertransformasi dari seorang peminum menjadi seorang pemabuk! (poor Rachel)

Megan

Dialah perempuan yang disaksikan Rachel sebagai istri yang sangat bahagia. Perempuan yang dalam khayalan Rachel bernama Jess ini dulunya adalah seorang pemilik galeri seni. Megan yang cantik dan ceria tinggal bersama Scott, sang suami, di salah satu rumah yang jaraknya cukup dekat dengan rumah Rachel dulu.

Tanpa disadari oleh Megan, kehidupan pernikahannya yang nampak bahagia dan penuh kemesraan itu ternyata disaksikan (bahkan dinikmati dan didambakan) oleh Rachel yang keretanya kerap berhenti di sinyal perlintasan rel kereta tepat di seberang deretan perumahan tempat ia tinggal.

Seiring dengan berjalannya kisah, masa lalu Megan pun terungkap sedikit demi sedikit. Ia begitu terpukul ketika kehilangan kakak laki-laki yang begitu dekat dan mengasihinya. Megan sendiri juga sering kali mengalami kesulitan untuk tidur karena dihantui bayang-bayang masa lalu yang bahkan suaminya sendiri tidak pernah tahu!

Anna

Dialah perempuan yang kini hidup berbahagia dengan bayi perempuannya dan Tom, mantan suami Rachel. Secara otomatis, Anna juga bertetangga dengan Megan karena rumah mereka hanya terpaut beberapa langkah jaraknya. Ketika Anna mulai kerepotan dengan kehebohan yang ditimbulkan oleh Evie, sang bayi perempuan, ia pun meminta bantuan Megan untuk menjaga sang bayi (meskipun hanya untuk beberapa waktu sebelum Megan akhirnya mengundurkan diri sebagai baby sitter).

Kehadiran Rachel yang beberapa kali terlihat di sekitar rumahnya membuat Anna sebal pada perempuan itu. Ia begitu khawatir kalau Rachel berusaha merusak kebahagiaan keluarga kecilnya dan merebut Tom kembali. Selain itu, kebiasaan mabuk Rachel juga membuatnya makin membenci mantan istri suaminya itu. Baginya, Rachel adalah perempuan yang telah melukai Tom begitu dalam.

Meskipun berbahagia dengan keluarga kecilnya, Anna juga kerap merindukan masa-masa ketika ia masih berkarir. Masa-masa ketika ia masih dapat menghabiskan waktu luangnya dengan minum di pub. Masa-masa yang kini tergantikan oleh kesibukan new-mom yang berkutat seputar bayi kecilnya.

Ketika pada akhirnya salah satu diantara ketiga perempuan itu menghilang, siapa yang patut dipersalahkan? Kalau penasaran, kalian bisa membeli bukunya langsung di toko buku langganan atau kalau mau praktis juga bisa dengan meminjamnya via aplikasi iJakarta sepertiku.

***

REVIEW

Diantara pemabuk, pembohong dan perebut suami orang, manakah yang paling dapat kamu percaya?

Ya, kisah ini diungkapkan melalui sudut pandang orang ke-3 dari ketiga perempuan yang dapat diberi tiga julukan di atas: Rachel si pemabuk, Megan si pembohong dan Anna si perebut suami orang. Nah, kira-kira cerita siapa yang lebih kamu percaya diantara ketiga perempuan tersebut?

The Girl On The Train banyak mengungkapkan rahasia para tokohnya. Rahasia-rahasia kecil yang akhirnya membuat twistnya makin membingungkan, njelimet dan tak tertebak. Well, semua orang memang punya rahasia yang ingin disimpannya bukan? Apa yang sebenarnya ada di balik pintu setiap rumah yang pernah kita lihat atau lewati? Seberapa banyak sebenarnya kita mengenal seseorang, bahkan pasangan kita sekalipun? Kemana perginya ingatan yang samar-samar muncul saat kita sedang dibuai minuman keras?

Di halaman-halaman awal, kisah ini terasa begitu lambat bergulir. Terutama berkisah seputar keseharian Rachel dan Megan yang nampaknya begitu menjemukan. Tak ada sesuatu yang istimewa dari kehidupan mereka. Kebiasaan minum Rachel benar-benar membuatku sebal padanya, padahal dialah tokoh utama kisah ini.

Kehidupan Anna dan Megan pun digambarkan nyaris begitu sempurna di awal kisah. Dan hal ini jelas membosankan bagiku. Kebahagiaan pernikahan keduanya benar-benar seperti sebuah fairy tale bagi orang dewasa. Well, at least, sampai akhirnya masalah itu pun muncul: Megan menghilang!

Dilihat dari sisi manapun, sulit bagiku untuk bersimpati kepada tiga perempuan yang menjadi fokus utama buku ini. Rachel dengan kebiasaan mabuknya yang begitu parah sampai menghasilkan ilusi dari ingatannya yang hilang saat alkohol benar-benar merenggut kesadarannya. Megan yang kecantikan fisiknya nyaris tanpa cela pun ternyata menyimpan masa lalu kelam yang akhirnya tetap menjadi misteri bagi sebagian besar orang sampai akhirnya ia dinyatakan hilang. Anna sang istri pujaan dan ibu teladan pun berhasil mencapai posisi nyamannya saat ini karena ia merenggut kebahagiaan perempuan lain.

Meskipun demikian, kepiawaian Paula Hawkins dalam bercerita patut diacungi 2 jempol! Rasanya hampir gak bisa dipercaya kalau ini adalah buku thriller pertamanya. Pace yang terasa lambat diawal mulai terasa cepat dan bahkan berkejar-kejaran seiring dengan fakta-fakta baru yang diungkap. Twistnya pun terasa begitu memelintir di sana-sini, membuatku kerap mengubah sasaran tebakanku sepanjang membaca buku ini.Meskipun pada akhirnya aku  berhasil menebak dalang utama masalah dalam buku ini, tetap saja endingnya tak terduga.

Terlepas dari serangkaian drama dan nuansa dark yang membungkus buku ini, ada begitu banyak pesan yang disampaikan oleh penulis melalui tokoh-tokohnya:

  • alkohol tidak dapat benar-benar membantu menyelesaikan masalah yang sedag kamu hadapi. Itu hanyalah pengalihan sesaat yang justru akan membawa lebih banyak lagi masalah ke depannya.
  • rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dan segar. Padahal, setiap orang punya masalahnya masing-masing yang tidak terlihat oleh orang lain. Oleh sebab itu, gak perlu sampai iri apalagi sirik dengan mereka. Upayakan saja supaya rumput kita pun bisa selalu hijau dan segar.
  • sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga. Sepandai-pandainya kita berbohong, toh pada waktunya nanti akan ketahuan juga. Karena kebohongan itu seperti ikan busuk yang disembunyikan di dalam berlapis-lapis pembungkus, yang lama-kelamaan bau busuknya kelak akan tercium juga.
  • karma itu ada dan berlaku bagi semua orang, tanpa terkecuali. Jadi, berhati-hatilah dalam bertindak dan usahakanlah agar perkataan dan tindakan kita tidak merugikan orang lain. Jika kamu gak ingin disakiti, ya janganlah menyakiti. Jika kamu gak pengen diselingkuhi, ya jangan sampe deh ngerebut pasangan orang lain.
  • masa lalu memang gak bisa diubah dan sedikit banyak akan membentuk dan memengaruhi pikiran dan tindakan kita saat ini, namun jika kita punya niat dan kemauan serta berusaha keras, perubahan bisa terjadi dalam hidup kita. Dan masa depan kita adalah tanggung jawab kita untuk mewujudkannya.

Jika kalian adalah pecinta kisah mystery/thriller/suspense, maka buku ini sangat kurekomendasikan untuk kalian baca! Dijamin kalian gak bakalan pengen berhenti baca sampai akhirnya mencapai halaman akhir buku ini.

komen
sebagian screen capture tampilan reviewku di aplikasi i-Jak

***

MOVIE

girlonthetrain_poster_web

Berkat tingginya penjualan novel ini (lebih dari 4 juta kopi di seluruh dunia), The Girl on The Train akhirnya diangkat ke layar lebar pada 2016 lalu oleh DreamWorks Pictures dan diperankan oleh artis-artis kawakan seperti Emily Blunt, Haley Bennett, Luke Evans, dll. Kamu sudah nonton filmya? Kalau gitu, sekarang saatnya membaca bukunya! 🙂

***

Fave quote

Aku perlu menemukan sesuatu yang harus kulakukan, sesuatu yang tak terhindarkan. Aku tidak bisa seperti ini, aku tidak bisa hanya menjadi istri. [hal. 29]

Aku tidak pernah mengerti betapa orang bisa dengan entengnya mengabaikan kerusakan yang mereka timbulkan gara-gara mengikuti kata hati mereka. Siapa bilang mengikuti kata hatimu adalah sesuatu yang baik? Itu egoisme murni, keegoisan tertinggi. [hal. 40]

… marilah bersikap jujur: perempuan masih benar-benar dihargai untuk dua hal saja — tampang mereka dan peran mereka sebagai ibu. [hal. 105]

Orang tua tidak memedulikan apa pun kecuali anak-anak mereka. Merekalah pusat jagat raya; hanya merekalah yang benar-benar penting. [hal. 106]

“Suami istri selalu bertengkar. Suami istri bertengkar sepanjang waktu.” [hal. 165]

Tidak ada yang lebih menyakitkan, yang lebih merusak, daripada kecurigaan. [hal. 351]

***

Goodreads Review 

Note:

Review ini diikutsertakan dalam Proyek Baca Buku Perpustakaan 2017 (#bacabukuperpus2017)

Review ini diikutsertakan dalam Read and Review Challenge 2017 – Kategori Single Point – Thriller and Crime Fiction

Review ini diikutsertakan dalam Reading Challenge “The Girl On The Train” bareng Noura Books dan iJakarta ( #iJak_Noura )

ijak_noura

Advertisements

2 thoughts on “The Girl On The Train

  1. kupikir penulisnya sama kayak yg nulis gone girl. bukan ya ternyata. menarik mbak. aku punya banyak bgt nih timbunan yg kubaca. jadi bingung mau milih baca yg mana dulu hehe.

    Like

    1. Gak sama sih. Klo Gone Girl kan ditulis oleh Gillian Flynn. Memang pe-er banget ya menghabiskan timbunan buku yang belum dibaca. Aku juga nih masih setumpuk buku yang belum sempat terbaca, tapi tiap bulan selalu beli buku baru, tiap minggu pinjam buku di perpustakaan, ikutan book crossing. Makin gak tersentuh deh tuh timbunan buku. Hahahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s