Mystery

The Silence of The Lambs

The Silence of The Lambs

Title : The Silence of The Lambs [Domba-domba Telah Membisu]

Author: Thomas Harris

Cover: Satya Utama Jadi

Translator: Hendarto Setiadi

Pages: 480

Published: June 2013 (GPU)

ISBN: 978-979-22-9075-2

Format: paperback (bought it at Gramedia Book Fair)

Genre: Mystery – Thriller – Crime

Rate: thumbsthumbsthumbsthumbs

 

BLURB

Seorang diri Starling menyusuri koridor remang-remang itu. Ia tidak menoleh ke sel-sel di kedua sisi. Suara langkahnya berkesan keras baginya. Kecuali itu hanya ada suara mendengkur dari satu atau dua sel, serta tawa terkekeh-kekeh dari sel lain…

Dr. Lecter mengenakan seragam putih rumah sakit jiwa di selnya yang berwarna sama. Kecuali rambut, mata, dan mulutnya yang merah, segala sesuatu di sel itu berwarna putih. Wajahnya sudah begitu lama tidak terkena sinar matahari, sehingga seakan-akan menyatu dengan warna putih yang mengelilinginya; sepintas lalu timbul kesan wajahnya melayang di atas kerah bajunya. Lecter duduk di meja di balik jaring nilon yang menghalanginya dari terali. Ia sedang membuat sketsa pada kertas roti dengan memakai tangannya sebagai model. Sementara Starling menonton, Lecter membalikkan tangan dan, sambil meregangkan jari-jemari, menggambar sisi dalam lengannya. Dengan jari kelingking ia menggosok-gosok salah satu garis yang dibuatnya dengan arang.

Starling mendekati terali, dan Lecter menoleh.
“Selamat malam, Dr. Lecter.”
Ujung lidah Lecter yang merah muncul di antara kedua bibir yang tak kalah merahnya. Sejenak lidahnya menyentuh bibir atas, tepat di tengah, lalu menghilang kembali.
“Clarice.”
Starling mendengar suaranya yang parau, dan dalam hati ia bertanya, sudah berapa lama sejak pria itu terakhir angkat bicara. Keheningan seakan berdenyut-denyut.

***

SINOPSIS & REVIEW

The Silence of the Lambs merupakan novel fiksi dengan kategori suspense/thriller mengenai terror kejahatan pembunuhan berantai yang mencekam wilayah Amerika Serikat bagian Midwest. Buku ini merupakan novel kedua yang ditulis oleh Thomas Harris yang berpusat pada tokoh antagonis Dr. Hannibal Lecter, seorang psikiater forensik yang brilian sekaligus seorang psikopat, setelah novel Red Dragon yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1981.

Pada tahun 1980-an, Federal Bureau of Investigation sedang menangani sebuah kasus pembunuhan berantai dengan enam korban wanita yang sudah ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan. Jack Crawford, Kepala Seksi Ilmu Perilaku di FBI, menugaskan Clarice Starling sebagai bagian dari investigasi kasus ini dengan tugas pertamanya menemui Hannibal Lecter yang sedang menjalani masa tahanan di sebuah rumah sakit jiwa dengan pengamanan maksimum. Mungkin menurut Jack Crawford dibutuhkan seorang pembunuh berantai untuk bisa mencoba mengerti pembunuh berantai yang lain.

Crawford mungkin memilih Starling, yang masih dalam masa pendidikannya di akademi, karena latar belakangnya dalam psikologi dan medis atau kenyataan sederhana bahwa dia seorang wanita yang mungkin bisa meluluhkan hati Dr. Lecter. Yang jelas, Clarice semakin terlibat lebih dalam dari pertemuan-pertemuannya dengan Dr. Lecter sementara mereka berdua saling mengorek keterangan dan cerita dari satu sama lain. FBI sangat membutuhkan informasi yang berguna meskipun petunjuk demi petunjuk penting terus bermunculan ke permukaan. Starling yang masih hijau dalam bidang penegakan hukum mendapati dirinya bepergian ke beberapa lokasi negara bagian dalam upaya untuk memecahkan kasus ini, berjuang keras melawan kelelahan dan kecemasan. Namun pada akhirnya, keteguhan, kecerdasan dan intuisinyalah yang memegang peranan penting dalam usahanya.

Ketegangan tetap terjaga dari bab ke bab seiring para tokohnya berlomba dengan waktu untuk menemukan sang pembunuh berantai sebelum dia menghabisi korban berikutnya, sembari memikul beban pribadi mereka masing-masing. Menghadapi ambisi pribadi seorang kepala institusi yang menginginkan ketenaran di tengah kemalangan yang terjadi, situasi politik dan tumpang tindih kewenangan yang terseret masuk dalam kasus ini serta ancaman setiap saat yang adalah Dr. Lecter sendiri. Detail penyidikan dan proses kerja para penegak hukum diungkap dengan baik dan teliti oleh Thomas Harris yang pernah bekerja sebagai reporter berita kejahatan dan editor di Associated Press.

Alur cerita yang mencekam membuat pembaca terus ingin membalik halaman demi halaman untuk mengungkap kengeriannya dan menemukan bahwa ending novel ini justru menimbulkan kegelisahan. Novel ini lebih sesuai untuk pembaca dewasa penggemar misteri karena topik tentang kelainan jiwa dan penggambaran dari penulisnya yang cukup nyata. Kejahatan pembunuhan berantai mungkin jarang terjadi di Indonesia, namun pembaca di Amerika Serikat benar-benar bisa memahami cerita ini karena banyaknya kasus orang hilang dan kejahatan pembunuhan yang belum terpecahkan di sana.

Membaca The Silence of the Lambs setelah pernah menyaksikan film dari adaptasi novelnya dengan judul yang sama ternyata merupakan dua pengalaman yang berbeda. Terkadang membaca sebuah novel setelah terlebih dahulu pernah menyaksikan filmnya menghilangkan rasa ingin tahu yang mungkin sudah tergambar jelas dalam visual dan suara dari filmnya itu sendiri; salah satu dari hanya 3 film yang berhasil memenangkan piala Oscar untuk kelima kategori utama Academy Awards pada tahun 1992. Tetapi dalam hal novel ini, hal itu tidak terjadi.

***

IMG_20170405_122656_edit_edit
ilustrasi yang dibuat suamiku untuk review The Silence of The Lambs

Note:

Review ini dibuat oleh Pak Suami yang belakangan ini jadi suka ikutan baca buku yang terlihat menumpuk di rumahku^^. Biasanya sih dia ini lebih suka baca buku non-fiksi seputar sejarah dan pengetahuan umum. Dan kali ini dengan murah hati, dia mau berbagi review dengan para pembaca blog Pelahap Kata ini.

Harapanku sih semoga kelak ke depannya nanti dia juga masih mau berbagi review di sini. Mumpung dia belum kepengen bikin blog sendiri.^^

***

Additional Note:

Review ini diikutsertakan dalam Read and Review Challenge 2017 – Kategori Single Point – Thriller and Crime Fiction

Advertisements

5 thoughts on “The Silence of The Lambs

  1. Saya termasuk penyuka buku yang ada memecahkan misteri-nya. Soalnya ketegangan yang dibangun, biasanya berhasil membuat saya hanyut sama ceritanya. Dan buku ini seperti memiliki potensi itu. Hehehe.

    Romantis euy, bisa ngisi blog berdua sama pasangan.

    Like

    1. Aku juga suka sama buku misteri/thriller! Bacanya deg deg serr… Dan bikin kita ikutan nebak2 twist da endignya!

      Suamiku baca komen ini cuma nyengir ajah. Semoga ya dia bisa dibujuk nyumbang review lagi di blog ini. Review The Silence of The Lambs ini adalah review pertama yang dibuatnya loh! ^o^

      Like

  2. Whoaa kenapa baca reviewnya jadi ikutan degdegan ya? Aku juga paling suka genre thriller/misteri (setelah fantasi tapinya) Aku pernah baca Red Dragon tapi nggak selesai, menurutku bahasanya terlalu berat😂

    Tapi baca ini jadi pengin lanjutin baca RD trus baca novel ini deh😀

    Pak suami udah baca RD belum yah?😁

    Like

    1. Yang Red Dragon malah belum punya bukunya 😆 mau berburu dulu! Hehehe… Makasih loh sudah iingatkan. 😉

      Aku sendiri blom sempat baca buku ini, eh… tau2 dah keduluan suami. Ya udah kutodong dia untuk bikin reviewnya. Hahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s