Classic

Kaas

Kaas

Title: kaas (Keju)

Author: Willem Elsschot

Translator: Jugiarie Soegiarto

Editor: Dini Pandia

Cover: Martin Dima

Pages: 176

Published: May 2010 (GPU)

ISBN: 978-979-22-5767-0

Format: paperback 

Genre: Classics

Rate: thumbsthumbsthumbs

 

BLURB

Frans Laarmans pegawai biasa. Karena merasa kariernya sudah mandek, ia pun mencoba berbisnis keju. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaan utamanya, sehingga saat memulai usaha ini, dengan stok pertama 10.000 keju Edam, ia cuti sakit dari kantor.

Namun berdagang ternyata tidak mudah. Kejunya tidak laku.

Ketika bos kejunya, Mijnheer Hornstra, mengabarkan akan datang menemui Frans, Frans pun mulai panik.

***

kaas2

SINOPSIS & REVIEW

Sudah dari dulu aku penasaran sama buku ini. Kenapa? Ya karena dari judulnya yang singkat serta covernya yang berwarna kuning terang. Rasanya begitu menarik hati!

Jika kita merancang sistem yang memberi kemungkinan menarik diri, kita tak akan pernah maju. [hal. 59]

Meskipun buku ini jumlah halamannya gak banyak dan ukurannya sedikit lebih mungil ketimbang buku lainnya (hampir seukuran pocket book), membacanya ternyata tidak terlalu mudah. Ada banyak istilah yang cukup asing bagiku, terutama karena sang tokoh utamanya bekerja sebagai pegawai di perusahaan galangan kapal: General Marine and Shipbuliding Company di Antwerpen. Untunglah hal ini teratasi dengan bantuan footnote dalam buku ini. Jadi setidaknya aku gak perlu berhenti membaca hanya untuk googling istilah-istilah yang gak kukenal ^^.

Perkataannya itu agak lancang, sebab tak seorang pun boleh menilai diriku sampai aku tahu sendiri bahwa sesuatu pekerjaan memang cocok. [hal. 32]

Karakter Frans sendiri bisa dibilang cukup mengena bagiku. Meskipun ia hanya seorang pegawai biasa, ia tetap saja memiliki egonya, terutama ketika ia tengah berkumpul dengan sesama pria lain yang terlihat cukup sukses. Ia tipikal seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Dan hal inilah yang akhirnya membuatnya nekat untuk keluar dari “comfort zone“nya setelah sekian tahun berkutat dengan pekerjaannya. Demi memperbaiki kehidupan keluarganya, Frans rela nyemplung di dunia yang sama sekali jauh dari kesehariannya: berjualan Keju Edam!

Jika menyangkut istri dan anak, kita harus sangat hati-hati. [hal. 38]

Perjuangan Frans dalam mengubah nasib inilah yang disoroti dalam buku ini. Dunia kesehariannya yang tadinya berputar di sekitar administrasi perkapalan, kini berubah 180 derajat! Ia harus berjuang dari nol untuk usahanya menjual Keju Edam. Bagaimana ia memberanikan diri membangun mimpi-mimpinya, membuat rumahnya sebagai kantor barunya, menyeleksi sendiri calon agen penjualannya, hingga mengontrol 10.000 Keju Edam sebagai modal awalnya.

Mempersiapkan kantor bagi pengusaha seperti menyiapkan popok bagi calon ibu muda. [hal. 66]

Jujur saja, aku lumayan kecele dengan endingnya yang kukira akan berakhir amat sangat tragis. Oh well, toh ini bukan kisah thriller yang mencekam. Buku ini justru begitu manusiawi sehingga kondisi dan sikap serta perasaan sang tokoh utama pun sangat bisa merefleksikan kondisi pembacanya, sekalipun kisah ini ditulis tahun 1933.

Di alam, hal yang tragis dapat ditemukan pada kejadian itu sendiri. Dalam seni, yang tragis lebih terdapat pada gaya daripada apa yang terjadi. […]

Dalam musik, hakikat tragis bahkan lebih jelas. […]

Demikian pula dalam sastra, yang tidak mengenal tangga nada dan mengandalkan kata dalam mengiba. Setiap kata menghadirkan bayang, dan oleh rangkaian kata itu dengan sendirinya terbentuk sketsa yang menjadi tumpuan gaya. Kita tak dapat melukis tanpa bidang. [hal. 170]

Salah satu hal paling menarik dalam buku ini ada di halaman 163-173, yaitu Catatan Pengarang. Beberapa hal yang diungkap disini begitu puitis dan memiliki makna yang sangat dalam. Rasanya aku jadi ingin membaca karya lain sang penulis, terutama versi graphic novel dari buku ini yang diilustrasikan oleh Dick Matena. Semoga saja karya-karyanya yang lain juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit di sini ya.

***

kaas1

Quotes:

Pengusaha harus mengikuti akal sehat, meskipun logikanya kacau. [hal. 68]

 

Anjing lapar tak boleh diberi makan dalam satu pinggan. [hal. 110]

 

Kita bisa masuk seperti orang yang memberi sesuatu atau meminta sesuatu, seperti pengusaha atau seperti pengemis. Mengemis lebih memerlukan sikap dan nada bicara daripada penampilan. [hal. 125]

 

Anak-anak yang patuh, anak-anak yang terpuji.

Istri yang baik, istri yang penyayang. [hal. 160]

***

Note :

Review ini diikutsertakan dalam Read and Review Challenge 2017 – Kategori Single Point – Classic Literature

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s