Children · Classic

Cindelaras

Cindelaras - cover

Title: Cindelaras (Dongeng Klasik Indonesia)

Author: Sanggar Tumpal

Illustrator: Baby, Edy Rozally Mulia, Fachrudin Ardiansyah, Iding, Komaruddin

Published: 2015 (GPU)

ISBN: 978-602-03-2244-5

Pages: 64

Genre: Picture Book – Children – Classic – Folklore

Rate: thumbsthumbsthumbs

 

BLURB

Cindelaras - back cover

***

SINOPSIS

Konon hidup seorang gadis cantik baik hati bernama Dewi Sekartaji. Karena kecantikan dan kebaikan hatinya ini, Raden Inu Kertapati pun jatuh hati padanya. Sayangnya, kisah kasih keduanya tidaklah direstui Ibunda Raden Inu Kertapati. Sekalipun cantik dan baik hati, Dewi Sekartaji hanyalah rakyat jelata, sedangkan Raden Inu Kertapati adalah putra mahkota Kerajaan Kahuripan.

Sekalipun Raden Inu Kertapati bersikukuh hanya ingin menikah dengan Dewi Sekartaji, dengan liciknya sang Ibunda memperdaya putranya sendiri di hari pernikahan yang telah ditentukan. Sosok Dewi Sekartaji digantikan oleh putri lain pilihan sang Ibunda. Sementara itu, Dewi Sekartaji (yang saat itu ternyata sedang berbadan dua) disingkirkan dari kerajaan.

Singkat cerita, Dewi Sekartaji dan anak yang dilahirkannya itu tinggal dan menetap jauh di dalam hutan. Anak laki-laki itu diberi nama Cindelaras. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, tangkas dan disukai oleh para penghuni hutan. Kemana pun ia melangkah, sosok harimau putih besar selalu ada bersamanya. Meskipun ia memiliki banyak teman binatang yang selalu menjadi teman bermainnya, serta Ibu yang cantik, lemah lembut serta baik hati, Cindelaras tetaplah merindukan sosok seorang ayah. Ia meyakini bahwa dirinya pun pasti juga memiliki ayah, sama halnya dengan para binatang di hutan. Sayangnya, sang Ibu tidak pernah mau membicarakan hal ini dengannya.

Suatu ketika, dengan rasa penasaran yang menggebu dan ditemani ayam jago kesayangannya, Cindelaras memutuskan untuk pergi meninggalkan hutan. Ia begitu antusias ingin melihat dunia luar. Rasa ingin tahu yang besar itu akhirnya mengantarkan Cindelaras ke istana raja yang dikenal selalu bermura durja dan memiliki kebiasaan menyabung ayam.

Bagaimanakah akhir dari petualangan Cindelaras? Akankah kerinduannya terhadap sosok sang ayah akhirnya terpuaskan? Bagaimana dengan nasib Dewi Sekartaji yang kini ditinggal seorang diri di dalam hutan?

***

REVIEW

Kisah Cindelaras adalah satu dari banyaknya cerita rakyat Indonesia. Aku pribadi bukannya baru sekali ataupun dua kali mendengar kisah ini. Namun buku ini terbukti mampu menyajikan kisah ini dengan nuansa yang cukup berbeda dan itu menyenangkan bagiku.

Seluruh halaman dalam buku ini dihiasi dengan gambar berwarna yang cukup penuh dan menarik. Terasa begitu pas dengan kisah yang bergulir di dalamnya. Selain keindahan ilustrasinya, kalimat-kalimat dalam buku ini juga terasa indah karena ditulis berima, sekalipun tidak dalam bentuk pantun atau puisi, misalnya saja:

Apa yang telah membuat hati Ibunda susah? Sesak tampak dadanya, karena tidak pernah berkeluh kesah. Bukankah lebih baik bila kesedihan itu tertumpah? Ataukah Ibunda susah karena aku yang berulah?” [hal. 2]

Ada sebuah quote yang kusukai dari buku ini:

“Ada masalah orangtu yang tidak perlu diketahui oleh anak” [hal. 17]

Kurasa aku cukup menyukai sosok Cindelaras dalam buku ini, karena ia digambarkan tidak hanya cerdas, tangkas dan baik hati, melainkan juga memiliki rasa keadilan yang tinggi. Seberapa banyak anak jaman sekarang yang masih punya karakter-karakter terpuji seperti Cindelaras? Selain menghibur, pastinya anak-anak akan mendapatkan banyak hal berharga dari kisah ini.

Sebaliknya, aku justru kurang menyukai sang Ibunda Cindelaras –Dewi Sekartaji– yang meskipun lemah lembut serta baik hati, namun terkesan kurang tangguh. Bukankah kaum hawa yang hidup di jaman sekarang ini justru harus memiliki ketangguhan ekstra dalam menjalankan peran kita secara seimbang? Oh well, bagaimana pun juga ini adalah buku yang diperuntukkan bagi anak-anak, dan bukannya buku fiksi yang sarat akan nilai-nilai feminisme.

Akhir kata, buku ini lebih saya rekomendasikan untuk anak-anak usia kelas 3 SD ke atas dan tetap perlu pendampingan orang tua karena ada beberapa istilah yang mungkin belum familiar di telinga anak, sehingga alangkah lebih baiknya jika orang tua dapat memberikan penjelasan lebih lanjut dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Kalaupun ingin membacakannya untuk anak dengan usia jauh lebih muda, cukup poin-poin pentingnya saja tanpa membacakan keseluruhan isi kalimatnya. Gambar di tiap halaman juga cukup membantu jika kita ingin mendongeng tanpa membacakan keseluruhan isi ceritanya.

Thanks to i-Jateng application, now I can borrow this book (and other Indonesian folklore story book). Dan yang paling penting, semuanya bisa diunduh secara gratis! ^o^

***

Note:

This is my 1st entry for:

 

baca_buku_perpus_2018

 

Advertisements

3 thoughts on “Cindelaras

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s